Showing posts with label Biologi. Show all posts
Showing posts with label Biologi. Show all posts

Filum Rotifera (Avertebrata)

  • Metazoa yang paling kecil 
  • Berukuran antara 40-2.500 mikron.
  • Umumnya hidup bebas, koloni, soliter atau sesile
  • Beberapa merupakan endoparasit pada insang krustasea, telur siput, cacing tanah dan dalam ganggang jenis Vaucheria dan Volvox.

Anatomi
  • Tubuh terbagi 3 bagian: bagian anterior yang pendek, badan yang besar dan kaki. 
  • Dibagian anterior terdapat corona & mastax
  • Corona terdiri atas daerah disekitar mulut yg bercilia, dan cilia ini melebar di seputar tepi anterior hingga seperti bentuk mahkota.
  • Gerakan cilia pada trochal disk (trochus=roda) tampak seperti roda berputar.
  • Mastax terletak antara mulut dan pharynx. Mastax adlah pharynx yang mempunyai berotot, bulat/lonjong dan bagian dalamnya terdapat sebuah trophi, semacam rahang berkhitin.
  • Throphi terdiri atas 7 buah gigi yang saling berhubungan.
  • Mastax berfungsi untuk menggiling dan menangkap  makanan.
  • Bentuk badan bulat atau silendris.
  • Di daerah ujung posterior terdapat sebuah kaki yang langsing  
  • Tubuh tertutup epidermis. 

Gambar garis besar filum rotifera


Fisiologi
1.Pencernaan 
  • Mulut di bagian ventral, biasanya dikelilingi oleh sebagian corona 
  • Jenis filter feedernya memakan partikel organik yg lembut dengan bantuan aliran air yang dihasilkan cilia pada corona.
  • Jenis karnivora memakan protozoa, rotifera kecil dan metazoa lain.
  • Makanan dari mulut dialirkan kedalam  mastax. Lalu pharinx dihubungkan dengan perut oleh esofagus. Perut yang berbentuk  kantong atau tabung, berhubungan dengan usus yang pendek dan berakhir pada anus.
2.Alat ekresi
  • Pada sisi lateral terdapat sebuah protonephridium dengan 2-8 flame bulb. 
  • Kedua potonephridia tersebut bersatu pada kantung kemih (bladder), yang bermuara pada bagian ventral kloaka.
  • Dengan jalan kontraksi isi bladder dikosongkan melalui anus  dengan kecepatan satu sampai empat kali per menit.
  • Pembuangan yang demikian dapatdengan cepat membuktikan bahwa fungsi protonephridia adalah sebagai osmoregulator, yaitu membuang kelebihan air di dalam tubuh.
  • Dalam selang beberapa menit dikeluarkan sejumlah cairan yang setara dengan berat tubuh rotifera tersebut.
3.Susunan saraf
  • Memiliki otak yang terdiri atas massa ganglion dorsal dan terletak di atas mastax. 
  • Dari otak dikeluarkan sejumlah pasangan saraf yang menuju bagian ke berbagai alat indera, antara lain ke mata dan ke antena.
  • Beberapa jenis rotifera, terutama yang sesiile tidak mempunyai mata. 
  • Mata berupa ocellus sederhana, berjumlah 3 hingga 5 buah.

Tiga Macam Trophi Mastax


Adapun Reproduksinya
  • Secara Dioecious 
  • Secara Seksual 
  • Secara Partenogenesis (terjadinya individu baru dari telur yang tidak dibuahi oleh jantan)

KLASIFIKASI
1.Kelas Seisonacea
2.Kelas Bdelloidea
  • Tubuh silindris dan retraktil 
  • Corona seperti dua roda yang berputar
  • Ovari sepasang
  • Terdapat dua kaki sampai empat jari atau tidak ada
  • Jantan tidak dikenal
  • Partenogenesis
  • Berenang  atau merayap 
  • Contoh: Philodina, Embata dan Rotaria 

3.Kelas Monogononta 
  1. Ovari sebuah; jantan biasanya ada dan mengalami degenerasi 
  2. Ordo 1. Ploima
    • Tubuhnya bulat hingga lonjong; atau agak pipih
    • Lorica ada atau tidak ada
    • Berenang bebas/ merayap sebagai aufwuchs:Keratella, Synchaeta dan Brachionus di laut dan air tawar, Chromogaster di laut hanya memakan dinoflagellata.
  3. Ordo 2 Flosculariacea
    • Corona terdiri atas 2 rangkaian cilia yang konsentrik dan ditengahnya terdapat sebuah galur bersilia
    • Biasanya terdapat 1-2 buah antena
    • Soliter atau koloni
    • Berenang bebas atau sesile
    • Testudinella berenang bebas
    • Flesculairia sesile
    • Conochilus koloni dan berenang bebas
  4. Ordo 3 Collothececacea
    • Corona besar sekali
    • Mastax uncinate atau kurang berkembang
    • Seringkali seslie misalnya Colotheca
Bagian Jenis Rotifera

Nilai Ekonomis
Rantai makanan pada ekosistem perairan tawar (memakan serpihan-serpihan organik dan ganggang bersel satu dan sebagai makannan bagi hewan yang lebih besar seperti cacing dan crustacea).
Sebagai pakan alami untuk larva ikan dan udang pada budidaya contoh: Brachionus.

Kingdom Animalia ( Biologi )

Wahhh..dah lama ni ane gak update, nah sekarang ane mau update dulu ini menyangkut tentang kingdom animalia mudah-mudahan bermanfaat ya...oke sekarang langsung aja ke pokok permasalahannya..

Kingdom animalia adalah salah satu kingdom yang memiliki anggota yang paling banyak & bervariasi. Pada kingdom animalia dapat dikelompokkan menjadi dua (2) golongan, yaitu golongan vertebrata (hewan bertulang belakang) dan golongan invertebrata (hewan tidak mempunyai tulang belakang. Dan berikut akan dijelaskan tentang ciri-ciri, struktur lapisan tubuh, & klasifikasi dari kingdom animalia.

klasifikasi kingdom animalia
Klasifikasi Kingdom Animalia

A. Ciri-ciri Kingdom Animalia

Anggota kingdom animalia terdapat beberapa ciri  yang membedakannya dengan kingdom-kingdom lainnya yaitu seperti:
1. Hewan merupakan organisme eukariotik multiseluler.
2. Bersifat heterotrofik, berbeda dengan tumbuhan yang bisa memproduksi makanan sendiri lewat fotosintesis (autotrof), hewan ini tidak bisa memproduksi makanan dengan sendiri sehingga akan memakan bahan organik yang sudah jadi.
3. Tidak memiliki dinding sel, komponen terbesar sel hewan tersusun atas protein struktural kolagen.
4. Memiliki jaringan saraf dan jaringan otot sehingga bisa aktif bergerak (bersifat motil).
5. Sebagian besar bereproduksi secara seksual.
6. Siklus hidup didominasi oleh bentuk diploid (2n).

B. Struktur Tubuh Animalia


Dalam klasifikasi kingdom animalia, Ada dua ciri-ciri yang dapat membedakan struktur tubuh pada  hewan. Dua ciri tersebut antaranya berdasarkan simetri tubuh dan lapisan tubuh.

1. Simetri tubuh
Berdasarkan simetri tubuhnya, hewan ini dapat dibedakan menjadi hewan yang memiliki simetri tubuh bilateral dan hewan yang memiliki simetri tubuh radial.
  • Simetri Bilateral, adalah hewan yang bagian tubuhnya tersusun bersebelahan dengan bagian-bagian lainnya. misalkan diambil garis memotong dari arah depan ke arah  belakang, maka akan terlihat bagian tubuh yang sama antara kanan dan kiri. Hewan yang bersimetri bilateral selain mempunyai sisi puncak (oral) dan sisi dasar (aboral), dan juga memiliki sisi atas (dorsal) dan sisi bawah (ventral), sisi kepala (anterior) dan sisi ekor (posterior), dan sisi terakhir yaitu samping (lateral).
  • Simetri Radial, adalah hewan yang memiliki lapisan tubuh melingkar (bulat). Hewan yang berbentuk simetri radial hanya memiliki dua bagian, yaitu bagian puncak (oral) dan bagian dasar (aboral). Hewan yang berbentuk bersimetri radial disebut sebagai radiata, hewan yang termasuk kedalam kelompok ini antaranya porifera, cnidaria, dan echinodermata.
Simetri Bilateral
A.Simetri Bilateral
Simetri Radial
A. Simetri Radial

2.Lapisan Tubuh

Dalam perkembangannya menjadi dewasa, hewan akan membentuk lapisan tubuh.Yang berdasarkan jumlah lapisan tubuhnya, hawan ini dapat dikelompokkan menjadi diploblastik dan tripoblastik.
  • Hewan Diploblastik, adalah hewan yang memiliki dua lapisan sel tubuh. Lapisan terluar disebut dengan nama ektoderma, sedangkan lapisan dalam disebut dengan endoderma. Ex dari hewan diploblastik adalah cnidaria.
  • Hewan Triploblastik, adalah hewan yang memiliki tiga lapisan sel tubuh. Pada lapisan terluar disebut eksoderma, pada lapisan tengah disebut mesoderma, dan pada lapisan dalam disebut endoderma. Eksoderma akan berkembang menjadi epidermis dan sistem saraf, dan mesoderma akan berkembang menjadi usus dan kelenjar , sedangkan endoderma akan berkembang menjadi sebuah jaringan otot.

3. Rongga Tubuh (selom)

Hewan triploblastik masih dapat diklasifikasikan lagi berdasarkan rongga tubuh (selom) yang ada. Rongga tubuh pada hewan sendiri dapat dibedakan menjadi tiga jenis(bagian), yaitu aselomata, pseudoselomata dan selomata.
  • Aselomata, adalah hewan bertubuh padat yang tidak memiliki rongga antara usus dengan tubuh terluar. Hewan yang termasuk kedalam aselomata adalah cacing pipih (Platyhelmintes).
  • Pseudoselomata, adalah hewan yang memiliki rongga dalam saluran tubuh (pseudoselom). Rongga tersebut berisi cairan yang dimana untuk memisahkan alat pencernaan dan dinding tubuh terluar. Rongga tersebut tidak dibatasi oleh jaringan yang berasal dari mesoderma. Hewan yangg termasuk kedalam pseudoselomata adalah Rotifera dan Nematoda.
  • Selomata, adalah hewan berongga tubuh yang berisi cairan dan mempunyai batas yang berasal dari jaringan mesoderma. Lapisan  luardan dalam dari jaringan hewan ini mengelilingi rongga dan menghubungkan dorsal dengan ventral membentuk mesenteron. Mesenteron yang berfungsi sebagai penggantung organ dalam. Selomata dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu protoselomata sama  deutroselomata. Ex hewan yang termasuk protoselomata antara lain Annelida, Mollusca, dan Arthropoda. Sedangkan pada hewan yang termasuk dalam deutroselomata antara lain Echinodermata dan Chordata.

C. Klasifikasi Kingdom Animalia
Adapun anggota kingdom animalia yang diklasifikasikan menjadi sembilan filum, antaranya:

1. Porifera (hewan berpori).
2. Cnidaria (hewan berongga).
3. Platyhelmintes (cacing pipih).
4. Nemathelmintes (cacing gilig).
5. Annelida (cacing bersegmen).
6. Mollusca (hewan bertubuh lunak).
7. Arthropoda (hewan berbuku).
8. Echinodhermata (hewan berkulit duri).
9. Chordata (hewan bertulang).

Hewan Avertebrata

Seperti yang kita ketahui Pengertian Avertebrata (Invertebrata) adalah istilah untuk hewan yang tidak mempunyai tulang belakang, lalu apa istilah untuk hewan bertulang belakang? istilah untuk hewan bertulang belakang adalah Vertebrata.
hewan avertebrata yang mempunyai peranan yang penting di alam semesta ini seperti : kupu-kupu, cacing dan tiram,
meskipun avertebrata  mempunyai peranan penting di alam semeta ini  tetapi ada juga hewan avertebrata yang merugikan alam. seperti : cacing hati, kecoak, ulat dan lebih banyak lagi.
Setelah mengetahui pengertian dari  vertebrata dan invertebrata untuk kali iniakan mencoba mempostingkan tentang contoh hewan avertebrata (Invertebrata)
 Nah...dibawah ini adalah  kelompok hewan dan contoh hewan yang termasuk kedalam avertebrata :

Porifera (Hewan Berpori)

Euspongia
Euspongia
Porifera hidup secara heterotrof salahsatu makanannya adalah organisme kecil sperti plankton, makanan yang masuk kedalam tubuhnya adalah bentuk cairan sehingga Porifera disebut sebagai pemakan cairan. Porifera yang hidup dilaut.
Contoh : Euspongia, Clathrina, Spongia, Sycon

Echinodermata (Hewan kulit berduri)
 
Bintang laut
Bintang laut

Contoh : Bintang laut (Asteroidea), Landak laut (Echinoidea), Lili laut (Chrinoidea), Tripang (Holothuroidea)

Coelenterata (Hewan Berrongga) 

hydra
Hydra
Coelanterata juga sering disebut dengan Cnidria (Hewan Penyengat), Contoh : Ubur-ubur, hydra, polip, koral, 

Nemathelminthes (Cacing Giling)

Planaria
Planaria
Contoh : Cacing perut (Ascaris lumbricodies), Cacing filaria (Wuchereria bancrofti), Cacing kremi (Oxyuris Vermicularis), Cacing tambang (Ancylostoma duodenale)

Arthropoda (Hewan Berlapis - lapis)
 
Lipan
Lipan
Dalam Anthropoda terbagi menjadi empat kelas yaitu : Insecta (serangga), Crustaceae (Udang), Myriapoda (Lipan), Arachnoidea (Laba-laba)
Contoh : laba-laba, kelabang, Kepiting, kaki seribu

Annelida (Cacing Gelang)
Lintah
Lintah
Contoh : Lintah (Hirudo medicinalis), Cacing tanah (Lumbricus terrestris),Cacing palolo (Haemodipsa)

Mollusca (Hewan Bertubuh Lunak)

Cumu-cumi
Cumu-cumi
Contoh : Sotong, Siput, Gurita, Cumu-cumi

Platyhelminthes (Cacing Pipih)

cacing pita
Cacing pita

Platyhelminthes dapat dibagi  menjadi tiga (3) kelas yaitu :
Tubelleria (Cacing Bulu Getar), contoh : Planaria
Trematoda (Cacing Hisap), contoh : Fasciola (cacing hati), Schistosoma,
Cestoda (Cacing Pita) contoh : Taenia Saginata (cacing pita sapi), Taenia Solium (cacing pita babi), Echinococcus granulosum (cacing pita anjing)

Filum Coelenterata

Coelenterata atau yang juga biasa disebut dengan Cnidaria adalah filum hewan yang memiliki tubuh sangat sederhana. Kata Coelenterata berasal dri kata (coelos) yg berarti rongga dan enteron yang berarti usus. Jadi, Coelenterata ialah hewan yg memiliki rongga di dalam tubuhnya yang sekaligus berfungsi sebagai organ pencernaan makanan. Coelenterata dapat ddisebut sebagai hewan sederhana karena jaringan tubuhnya hanya terdiri dari dua lapis sel, yaitu sel internal & eksternal.

filum coelenterata

Ciri-Ciri Coelenterata
1. Terdapat sekitar 10.000 spesies  Coelenterata yang sebagian besar hidup di laut.
2. Ada yg hidup secara soliter, ada juga sebagian lain hidup berkoloni.
3. Memiliki simetri radial.
4. Memiliki rongga gastrovaskuler yg berfungsi untuk mencerna makanan.
5. Tubuhnya hanya memiliki satu lubang bukaan yg berfungsi sebagai mulut sekaligus anus.
5. Merupakan hewan diploblastik.
7. Mempunyai tentakel yg berfungsi untuk memasukkan makanan ke dalam mulut.
8. Tentakel dilengkapi dng sel penyengat yg disebut dengan knidosit (cnidoblast).
9. Dan memiliki dua bentuk tubuh, yaitu polip &medusa.

Struktur Tubuh Coelenterata
Coelenterata merupakan diploblastik, hewan ini memiliki dua lapis sel yaitu ektoderm yang merupakan lapisan sel luar dan endoderm yang merupakan lapisan dalam. Coelenterata mempunyai dua bentuk tubuh, yaitu polip & medusa. Pada bagian bentuk polip (seperti tabung), coelenterata mempuyi mulut di bagian dorsal yg dikelilingi oleh tentakel. Pada bentuk medusa yg berbentuk seperti cakram, mulut coelenterata terdapat di bagian bawah (oral) dan tubuhnya dikelilingi oleh tentakel.

Reproduksi Coelenterata
Coelenterata dapat bereproduksi baik dengan cara generatif (seksual) maupun vegetatif (aseksual). Reproduksi secara generatif dapat terjadi saat sel sperma jantan membuahi sel telur (ovum) betina. Sedangkan pada perkembangbiakan secara aseksual berlangsung dengan cara pembentukan tunas pada sisi tubuh coelenterata yang akan tumbuh menjadi individu baru setelah lepas dari tubuh induknya.

reproduksi coelenterata

Beberapa jenis coelenterata juga mengalami metagenesis (pergiliran keturunan), yaitu perkembangbiakan seksual yg diikuti oleh perkembangbiakan aseksual pada satu generasi. Pd coelenterata jenis ini, tubuhnya akan memiliki bentuk polip pada satu fase hidupnya, selanjutnya berbentuk medusa pada tahap selanjutnya.

Klasifikasi Coelenterata

Coelenterata dapat dibagi menjadi tiga kelas utama, yaitu Hydrozoa, Scypozoa, dan Anthozoa.
1. Hydrozoa Beberapa jenis hidrozoa mengalami dua siklus hidup yaitu tahap polip yang aseksual dan tahap medusa yanseksual. Contohnya ialah spesies Obelia sp. Dan ada juga yang selama hidupnya hanya berbentuk polip saja, contohnya Hydra sp.

Hydra sp

Sebagian besar hydra hidup di perairan secara soliter (sendiri-sendiri). Mulut terdapat di bagian ujung tubuh Hidra dilengkapi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap makanan. Tentakel-tentakel ini yg dilengkapi dengan sel knidosit yg mengandung nematosista, yaitu racun yg berbentuk sengat untuk mencari mangsa. Hydra dapat bereproduksi secara seksual maupun aseksual. Perkembangbiakan seksual yaitu pada saatterjadi saat sel sperma jantan membuahi sel telur betina. Sedangkan perkembangbiakan aseksual dapat terjadi dengan tunas (kuncup) yang tumbuh di sisi tubuh hydra yang nantinya akan tumbuh menjadi individu baru.
2. Scyphozoa Contoh spesies yang termasuk dalam kelas ini adalah Aurelia aurita (ubur-ubur), yang bentuk seperti mangkuk, ada yang mempunyai tubuh berwarna dan ada beberapa spesies yang tubuhnya transparan. Pada tubuh Scyphozoa dilengkapi dengan tentakel yang mempunyai sel penyengat. Spesies Scyphozoa banyak hidup di perairan, baik di air tawar maupun air laut.
3. Anthozoa Memiliki ciri-ciri khusus yaitu tubuh yang menyerupai bunga. Ada beberapa contoh spesies yang termasuk dalam kelas ini adalah Metridium (anemon laut). Anthozoa yang hidup sebagai polip, salah satu ujung tubuhnya terdapat mulut yang dikelilingi tentakel lengkap dengan penyengatnya, pada ujung yang lain merupakan bagian tubuh yang berfungsi untuk melekatkan diri pada dasar perairan.


Ilmu Kelautan - Biologi (Nemathelminthes)

Nemathelminthes
• Tubuh simetribilateral, bulat panjang  (gilig) disebut cacing gilig
• Memiliki saluran pencernaan
• Dioceous (berumah dua) reproduksi  seksual (jantan dan betina)
• Mempunyai saluran pencernaan
• Memiliki rongga badan palsu  Triploblastik Pseudoselomata
• Kosmopolitan, ada yang parasit dan ada pula yang hidup bebas


Nemathelminthes












Gambar.Irisan melintang tubuh Nemathelminthes

Contoh :
Ascaris lumbricoides cacing perut manusia
Cacing betina ukurannya lebih besar daripada cacing jantan dan dinding posterior cacing jantan terdapat kait yang digunakan untuk reproduksi seksual. Tubuhnya licin karena terselubungi lapisan kutikula yang terbuat dari protein.

Siklus hidup :
Telur Masak (tidak sengaja) tertelan manusia menetas menjadi Larva di saluran pencernaan menembus usus peredaran darah Jantung, Paru-Paru, Trakea (tenggorokan), tertelan untuk kedua kalinya dengan gejala batuk-batuk, Usus, Cacing dewasa

Nemathelminthes siklus hidup

















Sering didapati komensalisme di dalam tubuh, namun pada anak-anak
< 10 th Ascariasis

Ascaris megalocephala
Persis sepeti Ascaris lumbricoides namun hospes tetapnya adalah hewan kuda.
Ascaris suilae Ascaris suum
Persis seperti Ascaris lumbricoides namun hospes tetapnya adalah hewan babi, di dalam ususnya

Ancylostoma duodenale dan Necator americanus cacing tambang
Hidup di dalam Duodenum manusia menyebabkan Ancylostomiasis
Siklus hidup :
Telur (keluar bersama feses)>menetas menjadi Larva Rhabditiform>Larva Filariform aktif akan menembus kulit>aliran darah>Jantung>Paru-Paru>Trakea>tertelan masuk>ke Duodenum (usus 12 jari)>menghisap darah

Oxyuris vermicularis l Enterobius vermicularis cacing kremi
Hidup di usus halus dan menyebakan Oxyuriasis. Penularan udara, tanah dan autoinfeksi.
T iga marga tersebut (Ascaris, Ancylostoma dan Oxyuris) disebut Soil Transmitted Helminths

Wuchereria bancrofti (Filaria bancrofti)
Hidup di dalam kelenjar limfe menyebabkan penyakit kaki gajah Elefantiasis/Filariasis.
Ditularkan melalui gigitan nyamuk Culex sp.

Loa loa hidup di daiam mata mamalia manusia menyebabkan Loasis
Trichuris trichiura cacing camhuk
Trichinella spirolis cacing otot
Strongyloides stercoralis hidup di usus halus menyebabkan Strongyloidiasis

Nemathelminthes
Nemathelminthes atau Aschelminthes adalah filum yang pernah dipakai pada Kerajaan Hewan (Animalia). Pengelompokan ini sekarang tidak digunakan lagi karena polifiletik. Meskipun demikian, pengelompokannya kadang-kadang masih dipakai untuk kemudahan.
Anggota-anggotanya mencakup berbagai cacing yang dikenal sebagai cacing gilig: hewan dengan tubuh berbentuk silinder memanjang, bahkan sangat panjang sehingga muncullah nama 'Nemathelminthes', yang berarti "cacing berkas" (dari bahasa Yunani).Tubuhnya tidak beruas-ruas.

Pembagian
Dari semua kelompok hewan yang digolongkan sebagai Nemathelminthes terdapat delapan sampai sepuluh filum yang dikenal pada masa kini, yaitu:
•Acanthocephala
•Chaetognatha
•Cycliophora
•Gastrotricha
•Kinorhyncha
•Loricifera
•Nematoda
•Nematophora
•Priapulida
•Rotifera

Nemathelminthes pada hewan 
















Ciri Tubuh
Nemathelminthes memiliki tubuh berbentuk bulat panjang seperti benang dengan ujung-ujung yang meruncing. Cacing ini memiliki rongga tubuh semu, sehingga disebut sebagai hewan pseudoselomata.
Nemathelminthes umumnya memiliki ukuran tubuh yang mikroskopis, namun ada pula yang mencapai panjang 1 meter. Individu betina berukuran lebih besar daripada individu jantan.
Permukaan tubuh Nemathelminthes dilapisi kutikula untuk melindungi diri dari enzim pencernaan yang berasal dari inangnya. Kutikula ini akan semakin menguat apabila cacing ini hidup parasit pada usus inang daripada hidup bebas.
Sistem pencernaan cacing ini telah lengkap, terdiri dari mulut, faring, usus, dan anus. Mulut terdapat pada ujung anterior, sedangkan anus terdapat pada ujung posterior. Beberapa jenis ada yang memiliki kait pada mulutnya. Nemathelminthes tidak memiliki pembuluh darah dan sistem respirasi. Cairan pseudoselom yang akan mengalirkan makanan ke seluruh tubuh dan pernapasan akan berlangsung secara difusi melalui permukaan tubuh.

Nemathelminthes bagian bagiannya 

Cara Hidup dan Habitat
Nemathelminthes ada yang hidup bebas, ada pula yang parasit pada manusia. Nemathelminthes yang hidup bebas terdapat di tanah becek dan di dasar perairan, berperan untuk menguraikan sampah organik, sedangkan yang parasit akan hidup di tubuh inangnya dan memperoleh makanan dengan menyerap nutrisi dan darah dari inangnya. Hampr seluruh hewan dapat menjadi inang bagi Nemathelminthes.

Reproduksi
Nemathelminthes umumnya bereproduksi secara seksual karena sistem reproduksinya bersifat gonokoris, yaitu alat kelamin jantan dan betinanya terpisah pada individu yang berbeda. Fertilisasi dilakukan secara internal. Hasil fertilisasi dapat mencapai lebih dari 100.000 telur per hari. Saat berada di lingkungan yang tidak menguntungkan, maka telur dapat membentuk kista untuk perlindungan dirinya.

Klasifikasi
penyakit kaki gajah yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti
Terdapat sekitar 80 ribu spesies Nemthelminthes yang telah diidentifikasi, dan yang belum teridentifikasi juga sangat banyak. Nemathelminthes dibagi menjadi dua kelas yaitu nematoda, dan nematophora. Beberapa nematoda yang menjadi parasit pada manusia adalah:
•Ascaris lumbricoides (cacing perut), penyebab penyakit ascariasis
•Ancylostoma duodenale (cacing tambang), banyak di daerah pertambangan
•Oxyuris vermicularis (cacing kremi), dapat melakukan autoinfeksi
•Wuchereria bancrofti (cacing rambut), penyebab penyakit kaki gajah
•Trichinella spiralis, penyebab penyakit trikhinosis

Nemathelminthes kaki gajah












Phylum Nemathelminthes
Phylum Nemathelminthes atau sering disebut juga Nematoda. Nemathelminthes berasal dari bahasa yunani yaitu nema = benang, dan helminthes = cacing. Jadi Nemathelminthes itu hewan Cacing yang berbentuk seperti benang. Sturktur tubuh Nemathelminthes berbeda dengan Platyhelminthes. Tubuh Nemathelminthes sudah memiliki rongga walaupun hanya rongga semu. Oleh sebab itulah Nemathelminthes disebut hewan Triploblastik Pseudoselomata.

Ciri-Ciri Nemathelminthes
1.Merupakan hewan multiseluler avertebrata
2.Hidup parasit di dalam tubuh makhluk hidup lain, dan ada juga yang hidup bebas
3.Merupakan hewan Triploblasik Pseudoselomata
4.Tubuhnya simetri Bilateral
5.Tubuh dilapisi kutikula yang berfungsi untuk melindung diri
6.Memiliki sistem pencernaan
7.Tidak memiliki pembuluh darah dan sistem respirasi
8.Organ reproduksi jantan dan betina terpisah dalam individu yang berbeda
9.Reprduksi secara seksual
10.Telurnya dapat membentuk kista.

Nemathelminthes melakukan reproduksi secara seksual yang bersifat gonokoris. Gonokoris yaitu organ kelamin jantan dan betina terpisah di individu yang berbeda. Proses pembuahan (fertilisasi) terjadi secara internal. Fertilisasi dapat menghasilkan lebih dari seratus ribu telur per hari. Telur dapat membentuk kista. Kista ini dapat bertahan hidup di tempat yang tidak menguntungkan.

Klasifikasi Nemathelminthes
Phylum Nemathelminthes dibagi menjadi dua kelas yaitu:
1.Nematoda
2.Nematophora.
Kelompok nematoda yang merugikan manusia.
1.Ascaris lumbricoides (cacing perut)
2.Necator americanus (cacing tambang)
3.Oxyrus vemicularis (cacing kremi)
4.Wuchereria bancrofti (cacing rambut).

ILmu Kelautan - Harmfull Algae Bloom (HAB)

HARMFULL ALGAE BLOOM
Dalam lingkungan laut, terdapat organisme bersel tunggal, mikroskopis, seperti tanaman, secara alamiah terdapat di lapisan permukaan yang terang dari setiap badan air. Organisme ini, disebut sebagai fitoplankton atau mikroalga yang membentuk dasar dari jaring makanan di mana hampir semua organisme laut lainnya tergantung padanya. Dari 5000 spesies fitoplankton yang ada di seluruh laut di dunia, hanya sekitar 2% yang diketahui berbahaya atau beracun berbahaya yang dapat memiliki dampak besar dan bervariasi pada ekosistem laut, tergantung pada spesies yang terlibat, lingkungan di mana mereka ditemukan, dan mekanisme yang mereka mengerahkan efek negatif.

Ganggang yang berbahaya telah diamati dapat menyebabkan efek samping untuk berbagai spesies mamalia laut dan penyu laut, dengan masing-masing yang spesifik menyajikan toksisitas diinduksi pengurangan perkembangan, imunologi, kapasitas neurologis, dan reproduksi. Seperti kematian massal 107 lumba-lumba botol yang terjadi di sepanjang menjulur Florida pada musim semi 2004 karena mengonsumsi menhaden terkontaminasi dengan brevetoxin tingkat tinggi. Manatee mortalitas juga telah dikaitkan dengan brevetoxin tapi tidak seperti lumba-lumba, vektor toksin utama spesies endemik lamun (Thalassia testudinum) di mana konsentrasi tinggi brevetoxins terdeteksi dan kemudian ditemukan sebagai komponen utama dari isi perut manate.

Tambahan spesies mamalia laut, seperti Paus Atlantik Utara kanan sangat terancam, telah terkena neurotoksin dengan memangsa zooplankton. Dengan habitat musim panas, spesies ini sangat tumpang tindih dan  tercemar. Blooming musiman fundyense Alexandrium dinoflagellata yang beracun, dan berikutnya penggembalaan copepod, paus mencari makan dan akan menelan konsentrasi besar dari copepoda terkontaminasi. Menelan mangsa yang terkontaminasi tersebut dapat mempengaruhi kemampuan pernafasan, perilaku makan, dan akhirnya kondisi reproduksi.

Spesies dari kelas Bacillariophyceae merupakan spesies yang umum ditemukan di perairan laut yaitu kelompok Bacillariophyceae atau lebih dikenal diatom merupakan kelompok terbesar dari algae. Ledakan populasi dari diatom di suatu perairan umumnya menandakan meningkatnya produktivitas perairan tersebut, namun blooming diatom kadang-kadang dapat menyebabkan berkurangnya kandungan oksigen di dalam air laut. Dominansi Skeletonema costatum disebabkan oleh sifatnya yang euryhaline dan eurythermal (mampu tumbuh pada kisaran suhu 3° - 30° C), sehingga lebih toleran terhadap perubahan kondisi lingkungan Salinitas yang berbeda berpengaruh terhadap komposisi jenis fitoplankton yang ada di perairan. Salinitas pada lokasi pengambilan sampel berkisar antara 5 ‰– 30‰. Dimana titik-1 merupakan estuarin bersalinitas 5‰, sedangkan pada titik lain merupakan perairan laut dengan salinitas ≥ 25‰. Bacillariophyceae merupakan kelompok yang dominan dan selalu ada pada tiap titik pengambilan sampel, hal ini menunjukkan bahwa Bacillariophyceae merupakan organism euryhaline, dimana Bacillariophyceae dapat hidup pada kisaran salinitas 5‰-30‰ Suhu pada masing-masing titik pengambilan sampel masih berada dalam kisaran yang memungkinkan untuk kehidupan plankton, yaitu 27 – 32.1°C.

Suhu optimum untuk kehidupan fitoplankton adalah 25-30°C. Suhu berpengaruh langsung terhadap laju fotosintesis tumbuhan khususnya reaksi enzimatis. Perubahan temperatur merupakan indikator terjadinya proses perubahan kondisi kimia dan biologi perairan. Faktor pembatas bagi kehidupan fitoplankton ialah nitrat dan fosfat. Pada pengamatan dari ke-12 titik didapatkan kandungan nitrat dan fosfat berturut-turut berada pada kisaran 0.02-0.517 mg/L dan 0.04-0.224 mg/L. Pada semua titik nilai nitrat dan fosfat melebihi dari ambang batas yang ditetapkan untuk baku mutu air laut untuk biota laut, berdasarkan KepMen LH no 51 thn 2004 lampiran III kadar nitrat sebesar 0,008 mg/l dan fosfat sebesar 0,015 mg/l. Titik 1 mempunyaikadar nitrat dan fosfat yang paling tinggi, karena daerah muara merupakan perairan yang banyak mendapat masukan zat haradari daratan. Kadar nitrat yang lebih dari 0,2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi, selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae secara pesat (blooming). Indeks keanekaragaman (H’) berkisar antara 0,272-2,378 sehingga dapat diasumsikan bahwa struktur komunitas perairan antara tidak stabil sampai lebih stabil, dengan struktur komunitas tidak stabil untuk titik-4 dan struktur komuntas lebih stabil pada titik-6.

Struktur komunitas dikatakan stabil jika tidak ada suatu spesies yang mendominasi di dalam komunitas tersebut. Sedangkan struktur komunitas dianggap labil atau tidak stabil bisa jadi dikarenakan terjadi tekanan ekologis (stress lingkungan).

Lima spesies HAB yang paling banyak ditemukan berasal dari kelas Dinophyceae. Hal ini dikarenakan Dinophyceae dapat membentuk sista (cyst) sebagai tahap istirahat, sista ini mengendap di dasar laut dan istirahat sampai kondisi lingkungan mendukung kembali untuk tumbuh. Anggota dari kelompok ini diketahui paling banyak mempunyai jenis-jenis toksik.Nitzschia sp. merupakan spesies penyebab Amnesic Shellfish Poisoning (ASP) yangmengeluarkan toksin asam domoic. Toksin yang diproduksi dapat memasuki rantai makanan hingga ke tubuh manusia melalui perantara kerang. Kerang merupakan organisme bentik suspension feeder yang menyaring plankton yang melimpah di kolom air. Ambang batas akumulasi asam domoic pada kerang ialah 20 μg (asam domoic)/ g (berat jaringan kerang). Menurut jenis kerang yang ditemukan di perairan Sidoarjo adalah kerang batik (Paphia undulata) yang mencapai 70 % dari total tangkapan kerang di perairan, kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara antiqua), dan ke-tiga jenis kerang tersebut merupakan kerang yang umum dikonsumsi dan berpotensi untuk diekspor.

Sedangkan menurut Dinas Kelautan dan Perikanan, standar untuk ekspor kerang ialah salah satunya dilihat dari adanya fitoplankton berbahaya dengan kepadatan >5000 individu/liter. Dan dari hasil penelitian, kepadatan Nitzschia yang ditemukan kurang dari 5000 individu/liter. Chaetoceros sp., spesies HABs tertinggi kedua setelah Nitzschia sp. merupakan spesies fitoplankton yang tidak toksik terhadap manusia tetapi secara fisik dapat mengganggu system pernafasan ikan dan avertebrata terutama apabila kepadatan individunya relatif tinggi. Diatom jenis ini mempunyai morfologi khas yaitu duri. Duri-duri tersebut dapat merangsang pembentukan lender pada insang biota laut, sehingga biota tersebut sukar bernafas. Duri-duri ini bahkan dapat menyebabkan pendarahan di insang. Chaetoceros merupakan jenis fitoplankton yang diketahui mampu bertahan di perairan tercemar.

1. Pengertian HAB
Harmful Algal Bloom (HAB) adalah suatu fenomena blooming fitoplankton toksik di suatu perairan yang dapat menyebabkan kematian biota lain. Toksin yang dihasilkan HAB bahkan dapat mengkontaminasi manusia yaitu melalui perantara kerang dan ikan yang kita konsumsi sehari-hari.
Fitoplankton memiliki klorofil yang berperan dalam fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air yang digunakan sebagai dasar mata rantai pada siklus atau rantai makanan di laut. Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan kualitas perairan laut apabila jumlahnya berlebih (blooming). Tingginya populasi fitoplankton beracun di dalam suatu perairan dapat menyebabkan berbagai akibat negatif bagi ekosistem perairan, seperti berkurangnya oksigen di dalam air yang dapat menyebabkan kematian berbagai makhluk air lainnya. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa beberapa jenis fitoplankton yang potensial blooming adalah yang bersifat toksik, seperti dari beberapa kelompok Dinoflagellata, yaitu Alexandrium spp, Gymnodinium spp, dan Dinophysis spp. Dari kelompok Diatom, yaitu Pseudonitszchia spp.
Ledakan populasi fitoplankton yang diikuti dengan keberadaan jenis fitoplankton beracun akan menimbulkan Ledakan Populasi Alga Berbahaya (Harmful Algal Bloom-HAB). Faktor yang dapat memicu ledakan populasi fitoplankton berbahaya antara lain karena adanya eutrofikasi dan adanya upwelling yang mengangkat massa air kaya unsur-unsur hara, adanya hujan lebat dan masuknya air ke laut dalam jumlah yang besar.
Untuk menyatakan ledakan populasi fitoplankton yang berbahaya karena spesies-spesies penyebab HAB menyebabkan racun atau toksik. Spesies HAB sendiri dibagi ke dalam dua kelompok, yakni penghasil racun dan penghasil biomassa tinggi. Fenomena ini sering terjadi begitu saja tanpa diketahui faktor-faktor yang menyebabkannya dan tanpa dapat diprediksi waktu terjadinya. Secara umum, penyebab terjadinya HAB juga berasal dari aktivitas manusia sehingga dapat meningkatkan pemasukan bahan organik ke perairan, transportasi dan pembuangan air ballast atau bekas pencucian kapal.
Harmful Algal Bloom (HAB) juga sering diartikan sebagai peningkatan yang cepat atau akumulasi dalam populasi ganggang (biasanya mikroskopis) dalam sebuah sistem perairan. Ganggang dapat ditemui di air tawar maupun lingkungan laut.
Biasanya, hanya satu atau sejumlah kecil fitoplankton spesies yang terlibat, dan beberapa blooming dapat ditandai dengan perubahan warna air yang dihasilkan oleh kepadatan tinggi sel-sel berpigmen dari fitoplankton. Meskipun tidak ada ambang batas yang diakui secara resmi, ganggang dapat dianggap blooming pada konsentrasi ratusan hingga ribuan sel per mililiter, tergantung pada keparahan. Blooming alga dapat mencapai konsentrasi jutaan sel per mililiter. Ganggang biasanya berwarna hijau, tetapi mereka juga dapat berwarna lain seperti kuning- coklat atau merah, tergantung pada spesies alga.


 

2. PENYEBAB HAB
Belum diketahui secara pasti penyebab daripada HAB, menurur peristiwa yang terjadi di beberapa tempat, tampaknya penyebab sepenuhnya adalah alam. Namun, ada berbagai spesies alga yang dapat hasil dari aktivitas manusia. membentuk HAB, masing-masing dengan persyaratan lingkungan yang berbeda untuk pertumbuhan yang optimal. Frekuensi dan keparahan HAB di beberapa bagian dunia telah dikaitkan dengan pemuatan nutrisi yang meningkat dari aktivitas manusia. Di daerah lainnya, HAB adalah kejadian musiman yang diprediksikan akibat upwelling pesisir, hasil alami dari gerakan arus laut tertentu. Pertumbuhan fitoplankton laut (baik non-toksik dan beracun) umumnya dibatasi oleh ketersediaan nitrat dan fosfat, yang dapat melimpah di zona upwelling pesisir serta dalam pertanian. Jenis nitrat dan fosfat yang tersedia dalam sistem juga faktor, karena fitoplankton dapat tumbuh pada tingkat yang berbeda tergantung pada kelimpahan relatif dari zat-zat (misalnya amonia, urea, ionnitrat). Berbagai sumber nutrisi lain juga dapat memainkan peran penting dalam mempengaruhi pembentukan mekar alga, termasuk besi, silika atau karbon. Polusi air di pesisir yang dihasilkan oleh manusia dan meningkatkan sistematis dalam suhu air laut juga telah diusulkan sebagai faktor kontribusi yang memungkinkan. Faktor lain seperti kelimpahan besi juga memicu HAB. Bahkan debu dari daerah gurun pasir yang luas seperti Sahara juga ditaksirkan memainkan peran untuk ganggang-ganggang di pantai menyebabkan.

Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan terdapat 11 spesies penyebab HAB, antara lain : Nitzschia sp., Chaetoceros sp., Chaetoceros diversus, Chaetoceros pseudocarvisetum dari kelas Bacillariophyceae, Ceratium sp.1, Ceratium sp.2, Ceratium sp.3, Ceratium sp.4, Prorocentrum sp., Dinophysis homunculus dari kelas Dinoflagellata dan Anabaena sp. dari kelas Cyanophyceae.

3. DAMPAK HAB
Dalam kondisi tertentu, beberapa spesies alga serta cyanobacteria mampu menyebabkan efek gangguan berbagai air tawar, seperti akumulasi berlebihan dari busa, scums, dan perubahan warna air. Ketika jumlah ganggang di danau atau sungai mengalami peningkatan eksplosif, maka blooming alg hasilnya.
Danau, kolam, dan sungai yang bergerak lambat yang paling rentan terhadap mekar. Mekar alga adalah kejadian alami, dan dapat terjadi dengan keteraturan (misalnya, setiap musim panas), tergantung pada kondisi cuaca dan air.
Kemungkinan blooming tergantung pada kondisi lokal dan karakteristik tubuh tertentu air. Blooming umumnya terjadi di mana ada tingkat tinggi nutrisi ini, bersama-sama dengan terjadinya hangat, cerah, kondisi tenang. Namun, aktivitas manusia sering dapat memicu atau mempercepat ganggang. Sumber alami nutrisi seperti senyawa fosfor atau nitrogen dapat dilengkapi oleh berbagai kegiatan manusia. Sebagai contoh, di daerah pedesaan, limpasan dari bidang pertanian dapat mencuci pupuk ke dalam air. Di daerah perkotaan, sumber nutrisi dapat mencakup air limbah diolah dari sistem septik dan limbah tanaman pengobatan, dan limpasan stormwater perkotaan yang membawa nonpoint-sumber polutan seperti pupuk rumput. Sebuah mekar alga menyumbang proses alami "penuaan" dari danau, dan di beberapa danau dapat memberikan manfaat penting dengan meningkatkan produktivitas primer. Namun dalam kasus lain, mekar berulang atau berat dapat menyebabkan penurunan oksigen terlarut sebagai sejumlah besar pembusukan alga mati. Dalam danau yang sangat eutrophic (diperkaya), ganggang dapat menyebabkan anoksia dan ikan membunuh selama musim panas.
Dalam hal nilai-nilai kemanusiaan, bau dan penampilan menarik ganggang dapat mengurangi dari nilai rekreasi waduk, danau, dan sungai. Mekar berulang dapat menyebabkan nilai properti dari danau atau saluran sungai menurun.

Perairan laut yang terlihat segar berkerumun dengan kehidupan, banyak yang mikroskopis, yang sebagian besar tidak berbahaya, bahkan kehidupan mikroskopik di mana semua kehidupan akuatik tergantung pada makanan. Sementara sebagian besar spesies fitoplankton dan cyanobacteria tidak berbahaya, ada beberapa lusin yang menciptakan racun ampuh pada saat kondisi yang tepat. Blooming alga berbahaya dapat menyebabkan kerusakan melalui produksi racun atau dengan akumulasi biomassa mereka, yang dapat mempengaruhi organisme dan mengubah jaring makanan. Dampaknya termasuk penyakit manusia dan kematian setelah dikonsumsi atau paparan tidak langsung untuk racun HAB, kerugian ekonomi yang besar bagi masyarakat pesisir dan perikanan komersial, dan mortalitas terkait HAB-ikan, burung dan mamalia.

HAB dapat muncul dengan warna kehijauan, coklat, dan bahkan oranye atau kemerahan tergantung spesies alga, ekosistem perairan, dan konsentrasi organisme.
Wabah ini biasanya disebut pasang merah, tetapi para ilmuwan lebih memilih "harmful algal bloom" istilahnya (atau HAB). Pasang merah merupakan Istilah keliru karena mencakup banyak hal yang dapat menghitamkan air, tetapi tidak menyebabkan kerusakan, dan juga tidak termasuk blooming dari sel yang sangat beracun yang menyebabkan masalah dalam konsentrasi sel. Oleh karena itu, harmful algal bloom adalah deskripsi yang lebih tepat.
Harmful algal bloom (HAB) adalah blooming alga yang menyebabkan dampak negatif terhadap organisme lain melalui produksi racun alam, kerusakan mekanis untuk organisme lain, dan lain-lain. HAB sering dikaitkan dengan peristiwa kematian berskala besar di laut dan berbagai jenis keracunan kerang .
Dari catatan khusus harmful algal bloom (HAB), yang melibatkan peristiwa blooming alga fitoplankton beracun atau berbahaya seperti dinoflagellata dari genus Alexandrium dan Karenia, atau diatom dari genus Pseudo-nitzschia.
HARMFULL ALGAE BLOOM

Contoh efek berbahaya HABs umum meliputi:
1.  Produksi neurotoksin yang menyebabkan mortalitas massal pada ikan, burung laut, penyu, dan mamalia laut.
2. Penyakit atau kematian manusia melalui konsumsi makanan laut yang terkontaminasi oleh alga beracun.
3. Kerusakan mekanik organisme lain, seperti gangguan jaringan epitel insang pada ikan, menyebabkan asfiksia.
4. penipisan oksigen kolom air (hipoksia atau anoksia ) dari respirasi selular dan degradasi bakteri

Dampak negatif terhadap ekonomi dan kesehatan adalah HABs terjadi di banyak daerah di dunia, dan di Amerika Serikat berulang kali terjadi fenomena dalam beberapa wilayah geografis. Para Teluk Maine sering terjadi blooming dari dinoflagellata fundyense Alexandrium, suatu organisme yang menghasilkan saxitoxin, yaitu racun syaraf yang berperan  untuk keracunan kerang paralitik. Terkenal juga "Florida pasang merah" yang terjadi di Teluk Meksiko adalah HAB disebabkan oleh Karenia brevis, dinoflagellata lain yang menghasilkan brevetoxin, racun syaraf yang bertanggung jawab untuk keracunan kerang neurotoksik. California perairan pantai juga mengalami mekar musiman dari Pseudo-nitzschia, sebuah diatom dikenal untuk menghasilkan asam domoic, racun syaraf yang berperan untuk keracunan kerang amnesic. Lepas pantai barat Afrika Selatan, HAB disebabkan oleh Alexandrium catanella terjadi setiap musim semi. Mekar ini organisme menyebabkan gangguan parah dalam perikanan perairan ini sebagai racun dalam fitoplankton menyebabkan filter makan kerang di perairan terpengaruh untuk menjadi beracun untuk dikonsumsi manusia.
Jika hasil proses HAB dalam konsentrasi ganggang cukup tinggi, air mungkin menjadi berubah warna atau keruh, yang bervariasi dalam warna dari ungu ke hampir merah muda, biasanya menjadi merah atau hijau. Namu tidak semua ganggang yang cukup padat menyebabkan perubahan warna air.

Pencegahan atau pengendalian Episode berulang dari ganggang bisa menjadi indikasi bahwa sebuah sungai atau danau sedang terkontaminasi, atau bahwa aspek-aspek lain dari ekologi danau yang berada di luar keseimbangan. Sementara mekar cyanobacterial menerima perhatian yang paling umum dan ilmiah, pertumbuhan berlebihan dari ganggang dan tumbuhan air lainnya juga dapat menyebabkan degradasi yang signifikan dari sebuah danau atau kolam, terutama di perairan yang menerima limbah atau limpasan pertanian. Ahli biologi air dan kualitas air lainnya seringdisebut spesialis untuk mengidentifikasi penyebab dan merekomendasikan langkah-langkah manajemen untuk mengurangi atau
mengendalikan masalah. Namun, pencegahan masalah selalu lebih baik daripada mencoba untuk memperbaiki masalah setelah itu terjadi.
Mengontrol limpasan pertanian, perkotaan, dan stormwater; benar menjaga sistem septik, dan benar mengelola aplikasi perumahan pupuk mungkin langkah yang paling efektif yang dapat diambil untuk membantu mencegah manusia yang disebabkan air tawar ganggang.

4. KEJADIAN TERKEMUKA
Pada tahun 1972 sebuah pasang merah ini disebabkan di New Inggris oleh sebuah tamarense dinoflagellata Alexandrium beracun (Gonyaulax) Pada tahun 2005, HAB Kanada ditemukan telah datang jauh ke selatan daripada yang tahun-tahun sebelumnya oleh sebuah kapal yang disebut Oceanus ini, penutupan tempat tidur kerang di Maine dan Massachusetts dan mengingatkan otoritas sejauh selatan sebagai Montauk ( Long Island , NY) untuk memeriksa tempat tidur mereka. Para ahli yang menemukan kista reproduksi di dasar laut memperingatkan kemungkinan menyebar ke Long Island di masa depan, menghentikan memancing daerah dan industri kerang dan mengancam perdagangan wisata, yang merupakan sebagian besar perekonomian pulau itu. Brittany, di Prancis, pada tahun 2009 mengalami booming alga berulang disebabkan oleh tingginya jumlah pemakaian pupuk di laut karena peternakan babi intensif , menyebabkan emisi gas mematikan yang telah.
membunuh.

PASANG MERAH (Red Tide)
Red tides atau pasang merah adalah fenomena dimana pasang air laut di suatu tempat berwarna merah. Fenomena ini disebabkan oleh makhluk hidup yang berasal dari kingdom protista yakni algae dan berjenis Dinoflagellata. Dan lebih jelasnya nama algae ini adalah Gymnodinium dan Protogonyaulax. Organisme ini menghasilkan warna merah dalam tubuhnya karena menghasilkan karotenoid yang warnanya merah racun saraf atau yang sering kita sebut neurotoksin.
Racun saraf ini berbahaya bagi makhluk hidup karena dapat merusak sel darah merah dalam tubuh makhluk hidup dan untuk lebih jelasnya manusia. Fenomena ini memang disebabkan oleh Dinoflagellata yang mengalami blooming atau peningkatan jumlah spesies hingga terlalu banyak. Jadi, semakin banyak Gymnodium dan  Protogonyaulax, akan semakin banyak pula racun yang dihasilkan. Dan semakin banyak racun yang dihasilkan, semakin banyka pula organisme laut yang mati. Kasus kematian jarang sekali terjadi pada manusia yang terkena racun neurotoxic ini.

 HARMFULL ALGAE BLOOM (red tide)

Pasang Merah adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan HAB disebut sebagai spesies wilayah pesisir laut, Dinoflagellata terlibat dalam HAB karena sering berwarna merah atau coklat, dan warna air laut untuk warna kemerahan. Namun istilah yang lebih benar dan lebih disukai yang digunakan adalah harmful algal bloom, karena:
1. Mekar ini tidak berhubungan dengan pasang surut.
2. Tidak semua ganggang menyebabkan perubahan warna kemerahan air.
3.Tidak semua ganggang berbahaya, bahkan melibatkan perubahan warna merah.

EUTRIFIKASI
Eutrofikasi merupakan masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-), khususnya dalam ekosistem air tawar. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Air dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada dalam rentang 35-100 μg/L. Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses alamiah di mana danau mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik. Proses alamiah ini, oleh manusia dengan segala aktivitas modernnya, secara tidak disadari dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade atau bahkan beberapa tahun saja. Maka tidaklah mengherankan jika eutrofikasi menjadi masalah di hampir ribuan danau di muka Bumi, sebagaimana dikenal lewat fenomena algal bloom.

A. AKIBAT EUTRIFIKASI
Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro, untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Akibatnya, kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan
baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air.

B. PENANGANAN EUTRIFIKASI 
Ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal, tetapi juga menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius banyak pihak secara terus-menerus. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan penanggulangan terhadap problem ini sulit membuahkan hasil yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut adalah aktivitas
peternakan yang intensif dan hemat lahan, konsumsi bahan kimiawi yang mengandung unsur fosfat yang berlebihan, pertumbuhan penduduk Bumi yang semakin cepat, urbanisasi yang semakin tinggi, dan lepasnya senyawa kimia fosfat yang telah lama terakumulasi dalam sedimen menuju badan air yang utama adalah Lalu apa solusi yang mungkin diambil? Menurut Forsberg dibutuhkan kebijakan yang kuat untuk mengontrol pertumbuhan pendudu (birth control). Karena apa? Karena sejalan dengan populasi warga Bumi yang terus meningkat, berarti akan meningkat pula kontribusi bagi lepasnya fosfat ke lingkungan air dari sumber-sumber yang disebutkan di atas. Pemerintah juga harus mendorong para pengusaha agar produk detergen tidak lagi mengandung fosfat. Begitu pula produk makanan dan minuman diusahakan juga tidak mengandung bahan aditif fosfat. Di samping itu, dituntut pula peran pemerintah di sektor pertanian agar penggunaan pupuk fosfat tidak berlebihan, serta perannya dalam pengelolaan sektor peternakan yang bisa mencegah lebih banyaknya lagi fosfat lepas ke lingkungan air. Bagi masyarakat dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung aditiffosfat.     Di negara-negara maju masyarakat yang sudah memiliki kesadaran lingkungan (green consumers) hanya membeli produk kebutuhan rumah sehari-hari yang mencantumkan label "phosphate free" atau "environmentally friendly".
Negara-negara maju telah menjadikan problem eutrofikasi sebagai agenda lingkungan hidup yang harus ditangani secara serius. Sebagai contoh, Australia sudah mempunyai program yang disebut The National Eutrophication Management Program, yang didirikan untuk mengoordinasi, mendanai, dan menyosialisasi aktivitas riset mengenai masalah ini. AS memiliki organisasi seperti North American Lake Management Society yang menaruh perhatian besar terhadap kelestarian danau melalui aktivitas sains, manajemen, edukasi, dan advokasi.
Selain itu, mereka masih mempunyai American Society of Limnology and Oceanography yang menaruh bidang kajian pada aquatic sciences dengan tujuan menerapkan hasil pengetahuan di bidang ini untuk mengidentifikasi dan mencari solusi permasalahan yang diakibatkan oleh hubungan antara manusiadengan lingkungan.
Negara-negara di kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific Committee on Phosphates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water Treatment Directive 91/271 yang berfungsi untuk menanganiproblem fosfat dari limbah cair dan cara penanggulangannya. Mereka jugamemiliki jurnal ilmiah European Water Pollution Control, di samping Environmental Protection Agency (EPA) yang memberlakukan peraturan danpengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan.

Ilmu Kelautan - Kimia Analisa (Kromatografi)

 KROMATOGRAFI


  • Teknik kromatografi ditemukan pertama kali oleh Tswett tahun 1903
  • Untuk menentukan jumlah jumlah analit tertentu maka harus dapat dibedakan analit yang berasal dari molekul atau elemen lain dari suatu sample 
  • Dalam kimia analisa terdapat beberapa cara untuk menentukannya, yaitu : ekstraksi, pengendapan, penguapan (evaporasi) dari prosedur  penyiapan sampel .
  • Secara fisik jika hal di atas telah dilakukan maka proses pemisahan telah dicapai dan jumlah analit dapat
Keunggulan Kromatografi
  • Dapat diterapkan untuk banyak molekul atau ion
  • Memberikan pilihan yang baik  untuk menghitung jumlah analit didalam sampel
  • Mampu menentukan junlah berbagai macam analit didalam sampel pada waktu bersamaan..

Definisi
  • Chromatography (from Greek χρώμα: chroma, colour)
  • Kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu kolom.
  • Perbedaan kemampuan adsorbsi terhadap zat-zat yang sangat mirip mempengaruhi resolusi zat terlarut dan menghasilkan kromatogram.
  • Pemisahan secara kromatografi bergantung pada 2 parameter :
    • perbedaan waktu retensi
    • lebar peak (puncak) atau tinggi plat 
  • Resolusi adalah angka yang menunjukkan bagaimana suatu analit dipisahkan dari analit lainnya , dan tergantung pada 2 parameter di atas juga
    • Merupakan ukuran apakah suatu senyawa terpisah secara baik atau tidak dengan senyawa lain

Kromatografi
  • Suatu cara pemisahan dimana komponen-komponen yang akan dipisahkan didistribusikan antara 2 fase, salah satunya merupakan fase stasioner (diam), dan yang lainnya berupa fasa mobil (fasa gerak).
  • Prinsip kromatografi. Fase gerak dialirkan menembus atau sepanjang fase stasioner. Fase diam cenderung menahan komponen campuran, sedangkan fasa gerak cenderung menghanyutkannya. Berdasarkan terikatnya suatu komponen pada fasa diam dan perbedaan kelarutannya dalam fasa gerak, komponen-komponen suatu campuran dapat dipisahkan. komponen yang kurang larut dalam fasa gerak atau yang lebih kuat terserap atau terabsorpsi pada fasa diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang lebih larut atau kurang terserap akan bergerak lebih cepat
  • Fase diam dapat berupa : zat cair atau zat padat
  • Fase gerak dapat berupa : gas atau cairan
  • Kombinasi dapat berupa : cair-cair; cair-padat; gas-cair; gas-padat 
  • Waktu yang dibutuhkan analit untuk bergerak melalui kolom disebut waktu retensi. 
  • Contoh kromatografi yang paling sederhana adalah kromatografi kertas yang dapat dibuat dari kertas saring biasa, bahkan dari kertas tissue. Kromatografi kertas dapat digunakan untuk memisahkan campuran zat warna.

Waktu retensi
  • Waktu yang diperlukan oleh sebuah komponen sampel untuk melintasi kolom sepanjang L disebut ‘retention time’ (t). Dari definisi ini, laju pemisahan diperoleh:
  • t= length/rate = ( 1 + K’) = tM(1 + K’)  
  • tM= waktu yang diperlukan oleh fase gerak untuk melintasi kolom sepanjang L. 
  • Persamaan ini merupakan persamaan dasar untuk semua jenis kromatografi. Dalam praktek sering diterapkan pada kromatografi gas dan definisinya dapat diubah menjadi retention time, yaitu waktu yang diperlukan oleh sampel mulai dari saat injeksi sampai timbulnya peak maksimum. 
  • Pemisahan terjadi karena molekul sampel tertahan oleh fase diam atau dibawa oleh fase gerak, tergantung dari afinitas senyawa tersebut terhadap kedua fase ini.
Koefisien distribusi
  • Distribusi dari molekul-molekul sampel diantara dua fase ditentukan oleh tetapan kesetimbangan yang dikenal dengan koefisien distribusi, K (koefisien partisi).
  • K = Cs/Cm
    • K = koefisien partisi 
    • Cs = konsentrasi sampel dalam fase diam (stationary phase) 
    • Cm = konsentrasi sampel dalam fase gerak (mobile phase)
  • Bila harga K, besar berati populasi molekul dalam fase diam lebih besar daripada fase gerak dan berarti rata-rata lebih lama tertahan dalam fase diam.

Manfaat Kromatografi 
Untuk menentukan jumlah molekul atau unsur tertentu dalam analit.

Jenis-jenis kromatografi
Berdasarkan fase gerak yang digunakan, kromatografi dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu:
  1. Gas chromatography dan
  2. Liquid chromatography.
Pembagian ini selanjutnya dapat dibagi lagi pada skema berikut: 
Kromatografi Gas 
  • GLC 
  • GSC
Kromatografi Cair
  •  HPLC
  • LLC-PC 
  • LSC-TLC, Kolom 
  • Ion Excange 
  • Ekslusi : 
    • GP 
    • GF
Keterangan
  • GLC = Gas Liquid Chromatography
  • GSC = Gas Solid Chromatography 
  • LLC = Liquid Liquid Chromatography 
  • LSC = Liquid Solid Chromatography 
  • PC = Paper Chromatography 
  • TLC = Thin Layer Chromatography 
  • GP = Gel Permeation 
  • GF = Gel Filtration 
  • HPLC = High Performance Liguid Chromatography

Kromatografi Kertas
Suatu pengembangan dari kromatografi partisi yang menggunakan kertas sebagai padatan pendukung fasa diam. Oleh karena itu disebut kromatografi kertas. Sebagai fasa diam adalah air yang teradsorpsi pada kertas dan sebagai larutan pengembang biasanya pelarut organik yang telah dijenuhkan dengan air.
    Kromatografi Kertas
  • Fase diam ; kertas  khusus yang dibuat untuk menyerap air banyak
  • Fase gerak : biasanya air atau larutan garam pekat
  • Aplikasi pada kimia forensik karena mudah dan bahan mudah tersedia
  • Keterbatasan : hanya dapat digunakan untuk menentukan komponen yang dapat larut dalam air dan nilai Rf tidak akurat











Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
suatu metoda pemisahan campuran senyawa atau komponen berdasarkan pada percobaan distribusi senyawa atau komponen-komponen yakni antara dua fasa yaitu :
    Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
  • Terbuat dari plastik atau plat kaca yang dilapisi fase diam, biasanya alumina, silica, or alkylated silica.
  • Anali dilarutkan di dalam pelarut yang cepat mengering dan di totol di bawah plat 
  • Ujung plat di bawah bercak ditenggelamkan dan dibiarkan didalam larutan fase gerak, pelarut organik atau larutan air.


Kromatografi Gas
cara pemisahan kromatografi menggunakan gas sebagai fasa penggerak. Zat yang dipisahkan dilewatkan dalam kolom yang diisi dengan fasa tidak bergerak yang terdiri dari bahan terbagi halus yang cocok. Gas pembawa mengalir melalui kolom dengan kecepatan tetap, memisahkan zat dalam gas atau cairan, atau dalam bentuk padat pada keadaan normal. Cara ini digunakan untuk percobaan identifikasi dan kemurnian, atau untuk penetapan kadar. 
    kromatografi gaskromatografi gas
  • (GC) tahap analit dan mobile keduanya harus gas atau dengan mudah dimasukkan ke dalam fasa gas dengan pemanasan. Gas fase gerak harus inert dan tidak bereaksi dengan sampel yang akan dianalisis. Contoh gas inert yang helium dan gas nitrogen.
  • Gas-gas dilewatkan melalui tabung, panjang dan sempit (dan paling sering, digulung) baik dikemas dengan fase diam berpori atau yang dalam dinding dilapisi dengan fase diam, dan komponen analit terdeteksi saat mereka muncul dari ujung tabung. Tabung umumnya dikenal sebagai kolom GC.
  • Seringkali gradien suhu berubah terhadap waktu, dari suhu rendah ke suhu yang lebih tinggi, yang diterapkan pada tabung. Ini pertama memungkinkan komponen analit untuk partisi ke dalam fase diam dan kemudian, dengan meningkatnya suhu, untuk diferensial memaksa mereka kembali ke dalam fase gerak.
  • Detektor umum untuk kromatografi gas detector pengionan nyala (FID), elektron detektor capture (ECD) dan spektrometri massa (MS). Berbagai jenis analisis sampel akan memerlukan penggunaan berbagai jenis detektor.
kromatografi kolom
Kromatografi kolom termasuk kromatografi serapan yang sering disebut kromatografi elusi, karena senyawa yang akan terpisah akan terelusi dari kolom.
    kromatografi kolomkromatografi kolom
  • seperti kromatografi gas, menggunakan tabung dikemas dengan fase diam, tetapi fase gerak adalah cairan bukan gas (Hal ini kadang-kadang dikenal sebagai kromatografi cair atau LC). Alih-alih gradien suhu, gradien dalam komposisi fase cair dapat digunakan untuk komponen terpisah.
  • Kromatografi kolom dapat dilakukan pada molekul yang lebih besar yang mungkin tidak mudah dimasukkan ke dalam fase gas. Di sisi lain, karena viskositas peningkatan cairan dibandingkan dengan gas, kromatografi cair dapat menjadi proses yang lebih lamban. HPLC (berbagai tekanan tinggi kromatografi cair kinerja tinggi atau kromatografi cair) mempercepat proses dan meningkatkan selektivitas dan sensitivitas pada tingkat yang signifikan dengan memaksa fase gerak melalui kolom kromatografi dengan pompa tekanan tinggi.



 Analisis kromatografi
  • Pemisahan camuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya
  • Merupakan masalah penting dari pekerjaan di laboratorium kimia. Untuk itu, kemurnian
  • Bahan atau komposisi campuran dengan kandungan yang berbeda dapat dianalisis
  • Dengan benar. Kontrol kualitas, analisis bahan makanan dan lingkungan, tetapi juga
  • Kontrol dan optimasi reaksi kimia dan proses berdasarkan penentuan analitik dari
  • Kuantitas material. Teknologi yang penting untuk analisis dan pemisahan preparatif pada
  • Campuran bahan adalah kromatografi. Prinsip dasar kromatografi, seperti yang
  • Digunakan saat ini bergantung pada ahli biologi Michael Tswett (1872-1919). Dia
  • Mempublikasikan prosedur yang berhubungan dengan pemisahan dan isolasi pigment
  • Tanaman yang berwarna hijau dan kuning melalui kromatografi adsorbsi.
  • Gambar
  • Ilustrasi tersebut menunjukkan pemisahan kromatografi lapis tipis dari ektrak daun
  • maple (kiri) dan daun jeruk nipis (kanan)
 pemisahan kromatografi lapis tipis dari ektrak daun