Showing posts with label Pengawet. Show all posts
Showing posts with label Pengawet. Show all posts

ilmu kelautan - Pengawetan Dengan Pengasapan/Pembuatan Ikan Salai

proses pengasapan ikan
Proses pengasapan merupakan salah satu cara pengawetan ikan, dengan menggunakan asap sebagai media pengawet.
Cara pengawetan ikan dengan proses pengasapan sudah dikenal sejak lama. Dengan pengasapan, ikan dapat disimpan lebih lama dan rasanya enak.

Praktek-praktek pengasapan sudah banyak dilakukan secara komersial terutama di daerah tertentu, seperti: Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Ambon, Aceh dan Jatim.

proses pengasapan ikan
 Prinsip Pengasapan
1. Unsur yang berperan adalah asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu.
2. Asap terdiri dari uap dan partikel padatan yang berukuran kecil
3. Komposisi kimia asap:
    - Air, Aldehid, Asam asetat, Keton, Alkohol, Asam formiat, Phenol dan Karbohidrat.
4. Unsur kimia asap dapat berfungsi untuk meningkatkan daya awet ikan, antara lain:
    a. Disinfektan yang menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri pembusuk yang terdapat dalam tubuh ikan.
    b. Pemberi warna pada tubuh ikan, sehingga ikan berwarna kuning keemasan dan dapat membangkitkan selera makan.
    c. Bahan pengawet, dapat mencegah terjadinya proses oksidasi lemak pada ikan.

Dasar-dasar Pengasapan
Pada dasarnya, proses pengasapan ikan merupakan gabungan aktivitas: penggaraman, pengeringan, pemanasan dan pengasapan.
1. Penggaraman
  - Konsentrasi garam dan lamanya proses penggaraman tergantung pada selera konsumen dan jenis, ukuran dan tingkat kesegaran ikan.
  - Melalui tahap penggaraman akan didapatkan beberapa keuntungan:
    a. Daging ikan menjadi lebih kompak.
    b. Pertumbuhan bakteri pembusuk dapat terhambat.
    c. Rasa daging ikan jadi lebih enak.
2. Pengeringan
  - Proses pengeringan yang terjadi memungkinkan lapisan permukaan daging ikan menyerap asap.
3. Pemanasan
  - Panas yang tinggi dapat menghentikan kegiatan enzim perusak, menggumpalkan protein dan menguapkan sebagian air dalam
tubuh ikan.
4. Pengasapan
  - Pengasapan dapat membunuh bakteri, seperti juga pada proses penggaraman.
  - Daya awet ini tergantung pada lama pengasapan dan volume asap.


Faktor yang Mempengaruhi Proses Pengasapan Ikan
Tingkat keberhasilan proses pengasapan ikan tergantung pada tiga faktor yang saling berkaitan, yaitu:
1. Mutu dan volume asap
  - Tergantung jenis kayu yang digunakan, syarat kayu yang digunakan sebaiknya:
    a. menggunakan kayu yang keras.
    b. tidak mudah terbakar.
    c. tidak memiliki getah.
    d. dapat menghasilkan asap dalam jumlah banyak, dan dalam waktu yang lama.
  - Jenis kayu yang digunakan, mampu menghasilkan asap dengan kandungan unsur phenol dan asam organiknya cukup tinggi.
  - Jenis kayu yang umum digunakan adalah:
    a. tempurung kelapa dan kayu turi.
2. Suhu dan kelembaban ruang pengasapan
  - Ruang yang baik adalah yang memiliki suhu dan kelembaban rendah, sifat asap yang dihasilkan lebih ringan dan valumenya banyak, sehingga dapat melekat pada tubuh ikan.
  - Suhu ruang pengasapan tinggi, terjadi proses case hardening.
  - Apabila kelembaban cukup rendah, proses penguapan cairan pada tubuh ikan lebih cepat dan proses pengasapan lebih cepat, proses pembusukan dan ketengikan dapat dihambat.
  - Kondisi suhu dan kelembaban harus rendah dan konstan.
3. Sirkulasi udara dalam ruang pengasapan
  - Adanya sirkulasi, menjamin mutu ikan asap lebih sempurna
  - Aliran asap akan berjalan dengan lancar dan kontinu, sehingga partikel asap yang menempel pada tubuh ikan semakin banyak dan merata.

Metode Pengasapan
Metode pengasapan terbagi menjadi empat, yaitu: pengasapan panas, pengasapan dingin, pengasapan listrik dan asap cair.
1. Pengasapan panas (hot smoking)
  - Ikan yang akan diasap diletakkan cukup dekat dengan sumber asap.
  - Suhu tempat penyimpanan ikan dapat mencapai 100 0C
  - Lama proses pengasapan:
    a. ikan kecil         :  1 – 3 jam
    b. ikan sedang     :  4 – 7 jam
    c. ikan besar        :  12- 24 jam
  - Keuntungan:
    a. proses pengasapan dapat berlangsung dengan cepat.
    b. produk yang dihasilkan dapat langsung dimakan.
  - Kelemahan:
    a. Memungkinkan dapat terjadinya case hardening.
2. Pengasapan cair (liquid smoking)
  - Ikan direndam pada cairan asap.
  - Cairan asap diperoleh dari pengembunan asap hasil pembakaran.
  - Proses pengasapan dilakukan dengan cara pemanggangan.
3. Pengasapan dingin (cold smoking).
  - Ikan diletakkan agak jauh dari sumber panas
  - Suhu tempat penyimpanan ikan tidak terlalu tinggi (30 – 60 0C)
  - Lama proses penyimpanan dapat berlangsung selama beberapa hari sampai dua minggu, tergantung ukuran ikan.
  - Keuntungan:
    a. ikan lebih banyak menyerap partikel/unsur asap.
    b. daging kering karena banyak cairan tubuh yang menguap.
  - Kelemahan:
    a. ikan tidak seluruhnya matang, sehingga perlu diolah lebih lanjut.
4. Pengasapan listrik (electric smoking)
  - Hampir sama dengan proses pemanasan dingin, yaitu:
    a. ikan diletakkan jauh dari sumber panas
    b. perbedaannya, pada pengasapan listrik digunakan muatan-muatan listrik untuk membantu melekatkan partikel asap ke tubuh ikan.

Tempat Pengasapan

Tempat pengasapan yang digunakan memiliki persyaratan tertentu, antara lain:
1. Hendaknya terletak pada ruang/tempat yang dapat tutup rapat.
2. Ruang asap berbentuk kotak, drum, lemari atau kamar.
3. Di dalam ruang penyimpanan terdapat rak atau tempat untuk menggantung ikan.
4. Sumber panas dapat dipindah-pindahkan.
5. Untuk kelancaran ventilasi harus baik.
6. Ruang pengasapan terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar.
7. Untuk mengontrol suhu perlu dipasang termostat.

tampat pengasapan ikan

tampat pengasapan ikan


Pelaksanaan Proses Pengasapan Ikan
Langkah-langkah yang dilakukan selam proses pengasapan ikan dapat mempengaruhi produk akhir, langkah pegerjaannya adalah sebagai berikut:
1. Alat-alat yang akan digunakan
  - oven
  - letak bahan bakar
tampat pengasapan ikan

2. Persiapan
  - memisahkan ikan berdasarkan jenis, ukuran dan tingkat kesegaran.
  - penyiangan, dengan cara membersihkan sisik, insang dan isi perut, lalu dilakukan pencucian.
  - proses penggaraman, ikan ditaburi garam secara merata dan didiamkan beberapa waktu.
  - ikan ditiriskan atau diangin-anginkan, sehingga menjadi kering.
  - ikan dimasukan ke dalam ruang penyimpanan.
3. Proses pengasapan
  - ikan diasapi dengan menggunakan metode tertentu.
  - lama proses pengasapan tergantung jenis, ukuran dan metode.
  - proses pengasapan dianggap selesai, bila ikan telah berubah warna menjadi kuning keemasan atau kuning kecoklatan.
4. Penyimpanan ikan
  - ikan asap segera dikonsumsi/diolah lebih lanjut:
    a. ikan disimpan di dalam kotak.
    b. ikan diletakkan ditempat yang tidak terlalu panas.
  - ikan asap tidak segera dikonsumsi:
    a. ikan hasil pengasapan diletakkan di ruang pendingin.

Prosedur Pengasapan Ikan

1. Ikan dipisahkan berdasarkan:
  - jenis
  - ukuran
  - tingkat kesegaran
2. Ikan dipisahkan berdasarkan:
  - membersihkan isi perut
  - membuang insang
  - membuang isi perut
3. Proses penggaraman:
  - ikan digarami secara merata
4. Proses pengeringan:
  - ikan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan
5. Metode Pengasapan:
  - pengasapan panas
  - pengasapan dingin
  - pengasapan cair
  - pengasapan listrik
6. Dari prosedur diatas menjadilah yang namanya ikan asap

ikan hasil pengasapan


Ilmu Kelautan - Teknologi Pengolahan Dan Pengawetan Hasil Perikanan

Pengawetan
Sebagai setiap usaha untuk mempertahankan mutu hasil perikanan selama mungkin sehingga dapat dimanfaatkan dalam keadaan yang baik dan layak.

PERANAN PENGAWETAN DALAM PERIKANAN
1.Dalam Bidang Produksi Ikan
a.Setiap perusahaan perikanan dapat menangkap ikan sebanyak mungkin.
b.Kapal-kapal penangkap ikan dapat beroperasi dengan jarak yang lebih jauh dan waktu yang lebih panjang.
c.Mencari lokasi penangkapan ikan (fishing-ground) yang baru.
2.Dalam Bidang Distribusi atau Perdagangan
a.Ikan dapat diperdagangkan lewat musim
b.Memungkinkan distribudi ikan secara luas
c.Memungkinkan perdagangan secara internasional
d.Memungkinkan stabilitas harga di pasar.


Ikan di Awetkan

MANFAAT IKAN BAGI MASYARAKAT
Banyak mengandung unsur organik dan anorganik. Komposisi unsur-unsur bervariasi menurut:
a.Jenis ikan
b.Umur
c.Jenis kelamin
d.Musim
e.Lingkungan hidup (jumlah dan keadaan makanan)

Komposisi Kimia Ikan Secara Umum
1.Komposisi Protein    16-20 %
2.Komposisi Lemak    2-22 %
3.Komposisi Air        56-80 %
4.Komposisi Mineral    2,5-4,5 %

Pemanfaatan Berbagai Bagian Ika
1.Daging    =Protein utama, lemak, bahan-bahan ekstrak.Berguna makanan untuk manusia
2.Telur        =Protein, lemak,untuk bahan Makanan manusia
3.Kepala    =Protein, lemak, kalsium fosfat    di buat untuk Tepung ikan
4.Tulang     =Kalsium fosfat, bahan-bahan yang mengandung nitrogen, untuk Tepung ikan   
5.Kulit        =Bahan mentah untuk Perekat Teknis
8.Hati        =Bahan yang mengandung nitrogen, lemak, vitamin. A, D, B12 untuk Pembuatan vitamin, makanan manusia, makanan hewan   

Beberapa jenis ikan yang beracun, diantaranya:
- globe fish (ikan butek)
- barracuda (ikan alu-alu)
- mullet (sebangsa belanak)
- tetradentidae

PEMBUSUKAN IKAN
Secara umum, kerusakan atau pembusukan ikan dan hasil-hasil olahannya dapat digolongkan sebagai berikut:
1.Kerusakan-kerusakan biologis
2.kerusakan-kerusakan enzimatis
3.kerusakan-kerusakn fisika
4.kerusakan-kerusakan kimiawi

Tahap-tahap Pembusukan Ikan
a. Hyperaemia
- Lendir ikan terlepas dari kelenjar-kelenjar di dalam kulit, membentuk lapisan bening yang tebal di sekeliling tubuh.
- mencapai 1-2,5% dari berat tubuh.
- Terdiri atas glukoprotein mucin (substrat yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri).
b. Rigor Mortis
- Ditandai dengan tubuh ikan yang mengejang setelah mati akibat proses-proses bio-kimia yang kompleks di dalam jaringan tubuh, yang menghasilkan kontraksi dan ketegangan.
- Selang waktu antara kematian dengan dimulainya rigor-mortis juga bervariasi.
Kedua hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut:
1) Jenis ikan
2) Kondisi ikan
3) Tingkat kelelahan
4) Ukuran ikan
5) Cara penanganan ikan
6) Temperatur penyimpanan.
c.Autolysis
- Proses penguraian protein dan lemak oleh enzim (protease dan lipase) yang terdapat di dalam daging ikan.
- Autolysis dimulai bersamaan dengan penurunan pH.
- Autolysis belum dapat disebut dengan pembusukan karena hasil hidrolisis protein dan lemak masih dapat dimakan manusia.
d. Bacterial decomposition
- Aksi bakteri dimulai pada saat yang hampir bersamaan dengan autolysis, dan kemudian berjalan sejajar.
- Daging ikan yang baru mati boleh dikatakan steril, tetapi sejumlah besar bakteri bersarang di permukaan tubuh, insang, dan di dalam perut.
- Bakteri mampu menguraikan protein, tetapi substrat yang terbaik adalah hasil hidrolisis yang terbentuk selama autolysis dan senyawa-2 nitrogen non protein (trimetilamin oksida, histidin, urea).
Catatan:
Ikan laut mengandung lebih banyak senyawa non-protein.
Contohnya: tuna, sardin, mackerel.


es balok untuk pengawet ikan
Es Balok Untuk Pengawet Ikan

KERUSAKAN BAHAN PANGAN ATAU PENURUNAN MUTU
Tanda-tanda Kerusakan
- Suatu bahan dinyatakan rusak bila menunjukan adanya penyimpangan yang melewati batas yang dapat diterima secara normal oleh panca indera.
- Proses pematangan suatu bahan pangan merupakan suatu proses reaksi kimia yang panjang, yang berakhir dengan degradasi tenunan dan akibatnya terjadi kematian sel dan pembusukan.
- Bila ditinjau dari penyebab kerusakan hasil perikanan, maka kerusakan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
- Kerusakan mikrobiologis, mekanis, fisik, biologi, kimia.

A.Kerusakan Mikrobiologis
» Kerusakan mikrobiologi merupakan bentuk kerusakan yang banyak merugikan bahan pangan yang kadang-kadang berbahaya terhadap kesehatan manusia.
» Pada umumnya kerusakan mikrobiologi tidak hanya terjadi pada bahan mentah, tetapi juga pada bahan pangan setengah jadi maupun bahan jadi.
» Bahan-bahan yang telah rusak oleh mikroba dapat menjadi sumber kontaminasi yang berbahaya bagi bahan-bahan lain yang masih segar.
B.Kerusakan Mekanis
» Kerusakan mekanis disebabkan karena adanya benturan-benturan mekanis, misalnya: benturan antara bahan atau benturan alat dengan bahan.
» Kerusakan mekanis hasil perikanan sering terjadi pada proses penanganan dan pengolahan serta pendistribusian.
C. Kerusakan Fisik
» Jenis kerusakan ini disebabkan karena akibat adanya perlakuan-perlakuan fisik yang digunakan. Misalnya:
  - proses pengeringan terjadinya “case hardening”
  - proses pendinginan terjadi “chilling injuries”, “freezing injuries”, “freezer burn”
» Penyimpanan dalam gudang basah dapat menyebabkan bahan dapat menyerap air, misalnya “hardeining” (pada tepung ikan sehingga terjadi pengerasan.
» Kerusakan yang terjadi karena lambabnya penyimpanan dapat menyebabkan aw (water activity) dari bahan meningkat.
» Penggunaan suhu terlalu tinggi dalam pengolahan bahan pangan menyebabkan citarasa menyimpang dan kerusakan terhadap kandungan vitamin.
  - Penggunaan suhu tinggi menyebabkan “thermal degradation”
» Adanya sinar juga dapt menyebabkan kerusakan lemak dan beberapa vitamin.
» Pada umumnya kerusakan fisik terjadi bersama-sama dengan bentuk kerusakan lainnya.
D. Kerusakan Fisiologis dan Biologis
» Kerusakan fisiologi meliputi kerusakan yang disebabkan oleh reaksi-reaksi metabolisme dalam bahan atau oleh enzim-enzim yang terdapat di dalamnya secara ilmiah.
Terjadi proses autolisis yang berakhir dengan kerusakan dan pembusukan.
  - Daging akan cepat membusuk bila disimpan pada suhu kamar.
Ikan pada umumnya mengadakan perlawanan pada saat ditangkap sehingga mengakibatkan habisnya kandungan glikogen dalam otot.
» Kerusakan biologis adalah kerusakan yang disebabkan oleh seranngan hewan lain, misalnya:
  - Serangga, binatang pengerat, burung dan lainnya.
E. Kerusakan Kimiawi
» Kerusakan kimiawi biasanya saling berhubungan dengan kerusakan lainnya, misalnya:
  - Adanya panas yang tinggi pada pemanasan minyak, sehingga mengakibatkan kerusakan asam lemak disebut “thermal oxidation”.
  - Pemanasan suatu bahan yang mengandung protein, juga dapat menyebabkan denaturasi dan penggumpalan.
  - Terjadinya noda-noda hitam pada makanan kaleng yang disebabkan oleh senyawa FeS akibat enamel dari lapisan kaleng tidak baik.
Kaleng tersebut mengadakan reaksi dengan senyawa H2S yang di produksi oleh makanan.
  - Reaksi “browning” pada beberapa bahan dapat terjadi secara enzimatis maupun non-enzimatis.
Browning” secara non-enzimatis ini dapat menyebabkan timbulnya warna yang tidak dinginkan, yaitu coklat.
- Proses penurunan mutu (proses deteriorasi) tidak dapat dihentikan secara total. Apa yang dapat diusahakan oleh manusia adalah memperlambat proses tersebut.
- Kontrol dari faktor deteriorasi, melalui teknologi pangan dalam aplikasinya dapat berjangka waktu pendek dan lama.
Pada jangka waktu pendek, ada dua cara kontrol sederhana:
1.pangan disimpan hidup
2.bahan pangan dihilangkan dari sumber kontaminasi dan penerapan sanitasi higiene.
Pada jangka waktu panjang, ada beberapa teknik kontrol (pengawetan dan pengolahan) yang dapat diusahakan, yaitu:
1.kontrol hidup mikroba; dengan cara thermal, refrigerasi, drying, pengaturan pH, vakum, penyinaran, dll.
2.kontrol enzim; sama seperti mikroba.
3.kontrol terhadap uap air, udara dan cahaya; menggunakan pengemas yang sifatnya melindungi (protektif).
4.kontrol terhadap serangga dan rodenta (tikus, dll); pengepakan dan perlindungan sanitasi-higiene terhadap pangan, pekerja dan lingkungan.

pengawet ikan
Pengawet Ikan