Showing posts with label Ekosistem. Show all posts
Showing posts with label Ekosistem. Show all posts

Productivitas Primer Wilayah Pesisir

Produktivitas primer adalah jumlah karbon (C) yang dihasilkan oleh tumbuhan yang memiliki klorofil dalam satu kubik air per satuan waktu (misalnya, gC/m3/hari)
Wilayah pesisir memiliki produktivitas primer yang tinggi: karena wilayah ini memiliki berbagai sumber produktivitas primer, yaitu padang lamun, hutan bakau, fitoplankton, alge makro, alge bentik dan epifit, serta masukan dari daerah hulu
Di daerah lintang sedang, sumber ini masih ditambah lagi dengan rawa payau yang biasanya juga sangat tinggi produksi karbon-nya

Sumber produktivitas primer di ekosistem pesisir 

Sumber produktivitas primer di ekosistem pesisir
  1. rumput rawa payau 
  2. lamun 
  3. mangroves 
  4. produksi terestrial 
  5. alge makro 
  6. fitoplankton 
  7. alge bentik dan epifit

Untuk menghasilkan produksi ini, diperlukan energi
Di wilayah pesisir terdapat tiga sumber energi potensial yang dapat mendukung produksi yang tinggi tadi: sifat-fisik air laut (terutama gelombang, pasang, dan arus), cahaya matahari, serta bahan organik
Ketiganya dapat mempunyai pengaruh positif atau negatif terhadap ekosistem di pesisir.  Gelombang dengan energinya dapat merusak tumbuhan di pantai ataupun pantainya sendiri.  Keperluan ekosistem pesisir terhadap sumber energi tersebut disajikan dalam Tabel 1 (sebagian diambil dari Odum et al., 1974)

Tiga sumber utama energi potensial di ekosistem estuaria

Tiga sumber utama energi potensial di ekosistem estuaria

Wilayah pesisir dan sumber energi yang khas 

Wilayah pesisir dan sumber energi yang khas


TEKANAN ATAU GANGGUAN TERHADAP EKOSISTEM
Semua makhluk hidup, termasuk (terutama) manusia, selalu memiliki pengaruh terhadap ekosistem dimana mereka sebenarnya menjadi bagian dari sistem tersebut. 
Bagaimana atau dengan kegiatan apa saja manusia dapat merubah sistem ekologi di wilayah pesisir? 
Beberapa ekosistem akan rusak oleh kegiatan berikut ini:  clearing lahan untuk pertanian, pembakaran pohon/hutan, pembangunan dam (waduk), penggundulan hutan, pembangunan gedung, dan pengerasan tanah untuk jalan raya

Dalam kegiatan tersebut, hutan dibabat untuk bahan bangunan atau kayu bakar, estuaria dikeruk, ditimbun, atau dikurangi luasnya, sungai dibendung dijadikan waduk, hutan bakau dibabat untuk lahan tambak atau permukiman, dsb.
Kegiatan manusia yang merusak ekosistem tadi kelihatannya hanya berpengaruh pada ekosistem yang diganggu saja, tetapi kalau dilihat lebih lanjut kegiatan di satu ekosistem dapat berpengaruh pada ekosistem lain yang terkait
Dam (Bendungan)
Bendungan untuk mengatur banjir, tenaga listrik, dan untuk membagi air bagi konsumsi manusia dan pertanian akan merubah aliran alami.

KETERKAITAN ANTARA EKOSISTEM DI WILAYAH PESISIR
Antar ekosistem pesisir terdapat keterkaitan dikarenakan mereka saling berhubungan.  Hubungan atau keterkaitan tersebut terjadi lewat beberapa proses, misalnya badan air yang mengalir dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya, adanya migrasi hewan dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya, dan proses lain akibat ulah alam maupun manusia.

Keterkaitan antara ekosistem terestrial dengan ekosistem pesisir
Keterkaitan ini akan sangat mudah dimengerti kalau kita melihat interaksi antara ekosistem terestrial dan ekosistem pantai lewat aliran sungai; apapun yang terjadi di daerah hulu akan dialirkan ke daerah hilir lewat sungai
Pada masa dimana penggunaan pupuk fosfat dan nitrat di sawah sangat tinggi, beberapa persen dari pupuk tersebut terbawa oleh aliran air ke sungai dan selanjutnya ke daerah hilir

Masukan fosfat dan nitrat yang tinggi ke perairan pesisir ini dapat menyebabkan terjadinya yutrofikasi (penyuburan), dan beberapa jenis alga menggandakan diri dengan sangat cepat (blooming), akibatnya terjadi penghambatan sinar matahari ke kolom air di bawah permukaan.  Akibat selanjutnya adalah banyak organisme (alga, termasuk fitoplankton) yang mati, dan bangkainya akan diuraikan oleh bakteri. 
Untuk mengurai ini diperlukan oksigen, sehingga karena banyaknya organisme yang mati, perairan menjadi kekurangan oksigen yang berakibat turunnya kualitas air dan akhirnya mempengaruhi kehidupan organisme yang lain.

Keterkaitan antara ekosistem hutan bakau-padang lamun
Keterkaitan antara hutan bakau dengan padang lamun dapat lewat proses fisik, nutrien, migrasi hewan, dan dampak kegiatan manusia. 
Padang lamun meredam gerakan air dengan cara melemahkan energi gelombang dan menciptakan zone energi rendah yang cocok buat hutan bakau. 
Padang lamun juga menjebak, menstabilkan, dan menghasilkan sedimen, yang penting bagi hutan bakau karena dapat mencegah abrasi atau penenggelaman bagian-bagian bakau yang diperlukan untuk aerasi.  Sebaliknya, hutan bakau bertindak sebagai tempat sedimentasi dan pengikat sedimen yang efektif, membalas keuntungan yang didapat dari padang lamun.  Kemampuan bakau mengatur aliran air tawar di wilayah pesisir menahan/menyangga perubahan salinitas yang kalau tidak akan merugikan lamun.
Baik hutan bakau maupun padang lamun cenderung melepaskan atau mengekspor nutrien.  Penglepasan berkaitan positif dengan pasokan nutrien yang tinggi, sedangkan ekspor berkaitan dengan masukan nutrien yang rendah kepada ekosistem di dekatnya.  Penglepasan nutrien menjamin bahwa setiap sistem menerima nutrien yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan.  Lagipula, burung-burung yang beristirahat di pohon bakau dan mencari makan di padang lamun akan membawa kembali nutrien ke hutan bakau dengan cara lewat kotoran yang dikeluarkan setelah kembali dari mencari makan di padang lamun.  Bahan organik (partikulat maupun terlarut) yang mengalir dari hutan bakau ke padang lamun dan sebaliknya, membantu mempertahankan perairan kedua habitat ini tetap kaya akan nutrien.
Perusakan hutan bakau akan menyebabkan aliran erosi daratan ke dalam padang lamun, menyebabkan penutupan (shading), dan yutrofikasi. 
Konsekuensi ini akan menurunkan produktivitas primer dan sekunder, terutama penurunan laju fotosintesis. 
Berkurangnya padang lamun membuat sedimen menjadi tidak stabil.  Hal ini kemudian menyebabkan sedimen terangkut oleh arus air atau badai ke daerah hutan bakau dan memperparah ekosistem yang telah mengalami gangguan, misalnya kerusakan daerah asuhan dan daerah mencari makan atau perubahan pola jaring-jaring makanan.

Keterkaitan antara terumbu karang , padang lamun dan bakau
Ketiga ekosistem pesisir ini tidak selalu dijumpai pada satu wilayah pesisir.  Kalau ketiganya dijumpai, maka terdapat keterkaitan antara ketiganya.  Misalnya, hutan bakau adalah penghasil detritus yang akan dibawa oleh arus ke padang lamun untuk dimanfaatkan oleh organisme di ekosistem tersebut. 
Selain itu, ekosistem bakau juga merupakan sumber bahan organik, dan nutrien yang oleh arus akan dibawa ke padang lamun.  Sebaliknya, padang lamun adalah sumber bahan organik dan nutrien yang akan dibawa ke ekosistem terumbu karang untuk kemudian dimanfaatkan oleh organisme penghuni terumbu karang.  Padang lamun juga mengikat sedimen sehingga tidak terbawa ke terumbu karang, yang kalau terjadi akan mengganggu kehidupan terumbu karang.  Terumbu karang sendiri, terutama di daerah tubir merupakan pemecah gelombang , menghempaskan energi gelombang di tubir karang sehingga secara fisik melindungi padang lamun dan hutan bakau.  Terumbu karang juga menyediakan berbagai macam habitat bagi organisme yang hidup di padang lamun ataupun hutan bakau
Di samping hal-hal yang disebutkan di atas, ketiga ekosistem tadi juga menjadi tempat migrasi atau sekedar berkelana dari organisme perairan hutan bakau ke padang lamun, kemudian ke terumbu karang atau sebaliknya.

Ekosistem Estuari

1. Lingkungan Hidup Estuar
a. Apakah ekosistem estuari?

ekosistem estuaria
Lingkungan hidup di estuari ditandai oleh adanya perubahan campuran air asin dan air tawar yang terjadi secara terus-menerus, serta adanya dominasi lumpur halus dari laut dan sungai yang dibawa masuk ke estuari. Lumpur itu kemudian tertimbun di estuari sebagai paparan lumpur yang luas.
Estuari merupakan bagian dari perairan pantai yang penting bagi kehidupan manusia, baik sebagai pintu keluar-masuk perahuperahu nelayan, sebagai tempat hidup berbagai jenis burung dan avertebrata lainnya, atau sebagai sumber perikanan setempat. Campuran air asin dan air tawar itu merupakan masalah hidup hewan-hewan tertentu. Paparan lumpur merupakan substrat yang kaya makanan, tetapi sedikit oksigen atau bahkan anoksik (tidak ada oksigen bebas).

a. Kadar garam
Kadar garam di estuari berkisar antara 0,5-35‰ (per mil=satu per seribu) dan Umumnya dinyatakan sebagai air payau. Garam-garam ini terutama ion-ion Na+ dan Cl- ditambah dengan potasium, kalsium, magnesium, dan ion sulfat, ditambah lagi ion-ion lain dalam jumlah yang sangat kecil. Kadar garam di laut dan di air tawar stabil, sedangkan kadar garam di estuari sangat bervariasi. Menurut pola sebaran kadar garam di estuari, ada tiga tipe estuari, yaitu estuari positif, estuari negatif, dan estuari netral.Pada estuari positif, penguapan air dari permukaan lebih kecil dari volume air tawar yang masuk dari sungai ke estuari.
  • Pada estuari positif ini, air tawar mengalir di atas air laut yang telah masuk dari laut ke estuari, dan lambat-laun air bercampur secara vertikal dari dasar ke atas. Tipe estuari ini sangat khas di bagian dunia yang beriklim sedang.
  • Pada estuari      tipe negatif, situasi yang berlawanan terjadi. Penguapan dari permukaan melebihi volume air tawar yang masuk ke estuari. Estuari tipe ini selain banyak terdapat di daerah tropik seperti di Indonesia, juga dapat terjadi di mana saja dengan air sungai yang sangat kecil.
  • Pada estuari tipe netral, penguapan yang terjadi dari permukaan sama dengan volume air tawar yang masuk dari sungai. Akan tetapi, kejadian ini jarang terjadi.
b. Lumpur estuari
Endapan lumpur di lingkungan estuary berasal dari laut, sungai, atau curahan air hujan di daratan sekitar estuari. Bersama dengan endapan itu, terangkut pula partikelpartikel organik dari ekskresi hewan atau tumbuhan yang mati atau busuk. Pada saat larutan dan senyawa organik itu masuk ke estuari dari laut dan sungai, senyawa organik itu tinggal sebagai timbunan dan tergabung di dalam ekosistem estuari bersama dengan senyawa anorganik yang halus.

c. Senyawa organik terlarut
Di dalam semua ekosistem perairan, senyawa organik biasanya dikelompokkan menjadi dua fraksi yang dapat diukur dengan menyaring melalui saringan dengan diameter pori rata-rata berukuran 0,5 μm. Bagian yang lewat saringan disebut senyawa organik terlarut (DOM) walaupun itu akan mengandung bahan partikel yang sangat halus ditambah senyawa yang betul-betul terlarut. Fraksi yang tinggal di saringan disebut partikel senyawa organik (POM). Konsentrasi dari DOM dan POM sebagai karbon organik di perairan estuari berada di antara laut dan sungai.

3. Rantai makanan di estuari
Rantai makanan di estuari tergantung pada pasokan energi dari sinar matahari dan transportasi senyawa organik ke dalam estuari dari sungai dan dari arus pasang surut air laut. Di dalam estuari, tumbuhan atau produsen primer mengubah pasokan itu menjadi senyawa organik tumbuhan. Tumbuhan itu kemudian dimakan oleh hewan pemakan tumbuhan (herbivor) atau konsumen pertama, yang seterusnya konsumen pertama itu dimakan oleh karnivor atau konsumen kedua, dan seterusnya sampai ke konsumen tingkat akhir.
Setiap tingkat dalam rantai makanan disebut dengan tingkat trofik, produsen adalah trofik tingkat pertama.
a. Produsen primer di estuari
Di dalam ekosistem estuari dapat dijumpai berbagai jenis produsen primer. Pada paparan pasir atau lumpur, dapat dijumpai lamun (Enhalus acoroides) yang merupakan tumbuhan berbunga, dan beberapa jenis algae, antara lain algae berfilamen seperti Enteromorpha sp., dan Padina sp. Di dalam kolom air estuari dijumpai fitoplankton, seperti diatom atau dinoflagellata.
Produktivitas primer jenis-jenis tumbuhan tersebut sudah tentu tergantung pada sinar matahari dan suhu, serta juga dipengaruhi oleh adanya nutrisi, terutama nitrogen dan fosfat. Begitu tingginya tingkat produktivitas primer di estuari disbanding dengan di laut ini terutama disebabkan oleh tingginya tingkat nutrisi di estuari. Nutrisi ini sangat banyak terdapat di perairan estuari, baik yang datang dari laut, sungai, atau daratan di sekitar estuari. Di dalam estuari, nutrisi itu digunakan oleh tumbuhan. Tumbuhan yang mati kemudian didaur ulang oleh bakteri pembusuk atau decomposer menjadi nutrisi kembali untuk dimanfaatkan lagi oleh tumbuhan.

Tentang peran produsen primer di dalam ekosistem estuari ini, detritus juga memegang peranan penting. Detritus yang terdiri dari sisa–sisa pembusukan tumbuhan produsen primer dan mikroba, mempunyai peran penting dalam menjaga kestabilan ekosistem estuari. Keberadaan detritus menjamin suplai makanan sepanjang tahun dan diabsorbsinya kembali nutrisi yang telah larut.

b. Konsumen primer (herbivor dan detritivor)
Estuari kaya akan sumber makanan bagi konsumen primer dari rantai makanan. Sumber makanan utama diperoleh dari besarnya jumlah detritus yang melimpah di dalam kolom air dan di dasar estuari.
Sebagian besar hewan konsumen primer terdapat di dasar estuari, seperti teritip (Krustasea, Cirripedia), kerang dan keong (Bivalvia dan Gastropoda) yang berada di permukaan dasar estuari, ataupun hewan lainnya yang hidup di dalam lumpur, seperti cacing.
Zooplankton biasanya berada di kolom air. Akan tetapi, adanya arus pasang surut dan aliran sungai yang masuk ke estuari ditambah lagi dengan keterbatasan yang ditimbulkan dari kekeruhan, membuat zooplankton mempunyai peran kecil dalam rantai makanan estuari dibanding dengan perannya di laut. Makanan zooplankton dan bentos kebanyakan berada dalam bentuk partikel organik halus, apakah itu berupa fitoplankton hidup atau macam-macam fragmen hasil pembusukan yang menjadi detritus.

1. Bentos yang hidup di estuari

Bentos dalam estuari dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Yang hidup di permukaan lumpur
Contoh: Perna viridis (kerang hijau) dan siput Strombus sp
Perna viridis (kerang hijau)
Strombus adalah karnivorus (pemakan jenis siput yang lebih kecil) di permukaan paparan lumpur estuari, hidupnya merayap,sedangkan kerang hijau, Perna viridis, hidup menempel di permukaan dan mendapatkan makanannya dengan jalan menyaring partikel-partikel organik yang ada dalam kolom air dan terbawa oleh arus.
b. Yang hidup di dalam lumpur
Contoh: cacing Marphysa sp. dan Branchimaldane sp.

cacing Marphysa sp
Cacing ini memakan benda-benda organik (detritus), diatom yang terdapat di dasar, atau benda organik yang tersuspensi pada waktu air pasang dan surut Cacing Marphysa terutama terdapat di dasar perairan dengan sedimen tidak lebih kecil dari 80 ųm. Biomassa cacing ini tergantung dari banyak sedikitnya senyawa organik di dalam lumpur.

2. Krustasea

Krustasea
Berbagai macam jenis krustasea ditemukan dalam habitat estuari mulai dari yang besar sampai yang kecil. Komponen utama dari krustasea yang hidup di estuari adalah amfipod (Amphipoda) yang hidup di dalam lumpur dekat permukaan. Amfipod membuat liang yang khas berbentuk U. Binatang ini memakan berbagai detritus organik dan keluar dari liang untuk mencari fragmen detritus di sekitarnya. Selain Amphipoda, krustasea lain yang biasa ditemukan adalah kelompok kepiting (Brachyura), kelomang (Anomura), dan udang-udangan (Macrura)

3. Meiofauna

Meiofauna
Meiofauna adalah hewan bentik bersel banyak (multiseluler) yang mempunyai ukuran tubuh antara 32ųm-1000ųm. Mereka hidup di antara rongga-rongga butiran pasir sehingga tidak pernah membuat liang. Seluruh siklus hidupnya tidak pernah mengalami fase planktonik sehingga fase larva juga hanya terjadi di lingkungan bentik. Keberadaan meiofauna dapat dijumpai di perairan pasang surut sampai dengan dasar perairan laut dalam. Termasuk meiofauna adalah hewan yang dapat melewati lubang saringan berukuran 0.5 mm. Sebagai contoh adalah Copepoda Harpacticoida yang hidup di dasar perairan.

c. Konsumer sekunder
1. Ikan

ikan
Berbagai jenis ikan ditemukan di perairan estuari. Ikan-ikan ini ada yang menetap, ada yang datang untuk mencari makan dan bertumbuh besar, atau untuk bertelur. Ikan-ikan ini memakan biota yang lebih kecil (pemangsa), memakan tumbuhan (herbivor), atau menyaring busukan organik (detritus) dengan cara memasukkan lumpur ke dalam mulutnya lalu memuntahkannya kembali setelah menyaring fragmen-fragmen organiknya seperti yang dilakukan oleh ikan-ikan Belanak (Mugilidae)

2. Avertebrata
Berbagai jenis hewan avertebrata ditemukan menghuni perairan estuari. Sebagaimana halnya dengan ikan, avertebrata yang ditemukan di perairan estuari sebagian merupakan penghuni tetap, sebagian lagi datang untuk mencari makan, membesar, atau bertelur. Salah satu contoh adalah udang satang (Macrobrachium sp.) yang datang ke perairan estuari dari hulu untuk bertelur. Avertebrata lainnya adalah larva udang penaeid yang bergerak dari laut menuju perairan estuaria untuk membesar
udang satang (Macrobrachium sp.) 

3. Burung
Burung-burung laut yang datang mencari makan di perairan estuari sebagian adalah burung bermigrasi. Burung bermigrasi ini mengunjungi perairan estuari tropik selama musim dingin di tempat mereka tinggal untuk bertelur.
Burung-burung laut 
Jumlah hewan dan tumbuhan yang hidup di estuari lebih kecil dari yang hidup di laut atau di air tawar. Berkurangnya jumlah jenis hewan dan tumbuhan itu dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kadar garam dan substrat. Perbedaan yang terjadi ditunjukkan dengan berkurangnya keanekaragaman jenis, tetapi jumlah individu tiap jenis itu dapat sangat banyak.
Ekosistem Estuari, khususnya di paparan lumpur yang luas dapat dikembangkan untuk dijadikan tambak ikan atau udang.

Fungsi ekologis estuaria :
  • Sebagai sumber zat hara dan bahan organic yang diangkut lewat sirkulasi pasang surut.
  • Penyedia habitat bagi sejumlah spesies hewan yang bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makanan.
  • Sebagai tempat untuk berreproduksi dan/atau tumbuh besar terutama bagi sejumlah spesies ikan dan udang.
  • Pemanfaatan wilayah estuaria sebagai tempat permukiman, penangkapan dan budidaya sumber daya ikan, transportasi, dan pelabuhan maupun kawasan industri.
  • Sebagai tempat pemukiman.
  • Penangkapan dan budidaya sumber ikan.
  • Sebagai Jalur transportasi.
  • Sebagai pelabuhan dan kawasan industri

Ilmu Kelautan - Perkembangan Ekosistem

PERKEMBANGAN EKOSISTEM
1. Perubahan pada populasi mendorong perubahan pada komunitas = Perubahan pada ekosistem
2. Perubahan ekosistem akan berakhir setelah terjadi keseimbangan ekosistem
3. Rangkaian perubahan mulai dari ekosistem tanaman perintis sampai mencapai ekosistem klimaks disebut suksesi

Suksesi
Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur
>Karakteristik komunitas pada suatu lingkungan adalah keanekaragaman.
>Makin beranekaragam komponen biotik (biodiversitas), maka makin tinggi keanekaragamannya

tahap tanap suksesi
>Perubahan-perubahan yang terjadi dalam komunitas dapat diamati dan seringkali perubahan itu berupa pergantian komunitas lain.
>Komunitas yang terdiri dari berbagai populasi bersifat dinamis.
>Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem.
>Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis)


Rangkaian suksesi
Tanah gersang >Tumbuhan perintis (lumut) >Tanah gembur >Tumbuh rumput >Tumbuh tumbuhan dari biji-bijian >Adanya komunitas yang seibang

Tipe Suksesi
>Suksesi Primer
terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara menyeluruh (total), sehingga di tempat komunitas asal itu terbentuk habitat baru atau subtrat baru. Pada habitat baru ini tidak ada lagi organisme yang membentuk komunitas asal yang tertinggal
>Suksesi Sekunder
terjadi jika suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu, baik secara alami maupun buatan (misalnya akibat kegiatan manusia). Gangguan yang terjadi tidak merusak komunitas secara total, sehingga subtrat lama dan kehidupan masih ada. Subtrat inilah yang menjadi tumbuhan pelopor untuk membentuk komunitas yang terganggu tersebut. Proses pembentukan komunitas yang berasal dari subtrat asal

suksesi
suksesi
Contoh yang terdapat di Indonesia adalah terbentuknya suksesi di Gunung Krakatau yang pernah meletus pada tahun 1883. Di daerah bekas letusan gunung Krakatau mula-mula muncul pioner berupa lumut kerak (liken) serta tumbuhan lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan kekeringan. Tumbuhan perintis itu mulai mengadakan pelapukan pada daerah permukaan lahan, sehingga terbentuk tanah sederhana. Kalau tumbuhan perintis mati maka akan mengundang datangnya pengurai (dekomposer). Zat yang terbentuk karena aktivitas penguraian bercampur dengan hasil pelapukan lahan membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya.

Dengan adanya tanah ini, biji yang datang dari luar daerah dapat tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan kekeringan tumbuh. Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner dengan menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi sebaliknya.

Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terns mengadakan pelapukan lahan.Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal.

Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi.
Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terbentuklah hutan.

Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil sehingga tidak banyak mengubah ekosistem itu. 
Dalam kondisi alami, lingkungan dengan segala keragaman interaksi yang ada mampu untuk menyeimbangkan keadaannya.
Namun tidak tertutup kemungkinan, kondisi demikian dapat berubah oleh campur tangan manusia dengan segala aktivitas pemenuhan kebutuhan yang terkadang melampaui Batas.
Keseimbangan lingkungan secara alami dapat berlangsung karena beberapa hal, yaitu komponen-komponen yang ada terlibat dalam aksi-reaksi dan berperan sesuai kondisi keseimbangan, pemindahan energi (arus energi).
Keseimbangan lingkungan dapat terganggu bila terjadi perubahan berupa pengurangan fungsi dari komponen atau hilangnya sebagian komponen yang dapat menyebabkan putusnya mata rantai dalam ekosistem.
Salah satu faktor penyebab gangguan adalah polusi di samping faktor-faktor yang lain.