Showing posts with label Kimia. Show all posts
Showing posts with label Kimia. Show all posts

Hydrothermal Vent

Hydrothermal Vents adalah retakkan di permukaan planet yang secara geothermal memanaskan perairan.Hydrothermal vents juga dapat ditemukan di dekat daerah yang aktif secara vukanis, area di mana lempeng tektonik akan bergerak.
Di daratan, Hydrothermal vents dapat mata air panas, berupa fumarol, dan geyser. Di bawah laut, Hydrothermal vents biasanya  disebut sebagai Black Smokers.

Kandungan Di Dalam Hidrothermal Vents
  1. Ada beberapa Hydrothermal Vents yang mengandung timbunan mineral anhidrat.
  2. Tembaga sulfida, seng sulfida,  dan besi sulfida.Tingginya kandungan mineral di sekitar daerah Hydrothermal Vents menyebabkan berbagai eksploitasi di sekitarnya oleh berbagai perusahaan tambang.
  3. Di sebagian besar laut dalam, area sekitar Hydrothermal vents secara biologis sangatlah subur bagi kehidupan sekitarnya dan menjadi tuan rumah bagi berbagai makhluk hidup yang memanfaatkan bahan kimia terlarut dari lubang Hydrothermal Vents
Sirkulasi hidrotermal vents
  1. Siklus hidrotermal adalah sirkulasi air panas akibat adanya intrusi magma ke bagian kulit bumi sehingga membuat air yang berada di sekitarnya menjadi panas. Hal ini biasa terjadi di daerah dekat dengan gunung di dalam laut yang masih aktif, akan tetapi dapat juga terjadi di lapisan kerak samudera dan kerak benua (Sandro, 2008)
  2. Sirkulasi hidrotermal di lautan adalah tenggelamnya air laut yang dingin padat ke dasar laut dan dipanaskan di kedalaman  dasar laut itu lalu naik kembali ke antarmuka air-laut karena densitasnya lebih rendah.

Hubungan Hydrothermal Vents dengan Biota - Biota Laut

  1. Makhluk hidup di daerah laut dalam sngat bergantung pada matahari untuk mendapat oksigen namun karna adanya hidroteermal vents makhluk hidup seperti ikan tidak bergantungan pada cahaya matahari.
  2. Hydrothermal Vents mengandung banyak mineral terlarut dan mendukung populasi besar bakteri kemoautotrofik. Dimana bakteri ini hanya mengandalkan komponen - komponen sulfur, hidrogen sulfida, bahan kimia yang bersifat sangat beracun bagi sebagian besar makhluk hidup, dan untuk membentuk material organik melalui proses kemosintesis. 
  3. Mensupport bahan makanan.
  4. Penghubung antara laut dalam dan permukaan.

Biota-biota hidrotermal vents
  1. kepadatan makhluk hidup dasar laut di sekitar zona Hydrothermal Vents sangat tinggi sekalai, sekitar 10,000 hingga 100,000 lebih tinggi dari perkiraan awal atau sebelumnya.
  2. Komunitas Hydrothermal Vents juga mampu mempertahankan kehidupan yang sangat besar itu karena mereka bergantung pada bakteri kemosintesis sebagai makanan
  3. Cacing tabung adalah bagian penting bagi komunitas Hydrothermal Vents.

Contoh biota hidrotermal
  1. Cacing tabung dan kerang

    Cacing tabung dan kerang
    • Cacing tabung bersimbiosis dengan bakteri kemosintesis di dalam jaringan tubuhnya. Cacing tabung tidak mempunyai  saluran pencernaan dan, mulut ia hanya menyerap secara langsung nutrisi kimia dari perairan sekitarnya untuk memberi makan bakteri yang hidup di dalam jaringannya.

  2. Alviniconcha sp. ( Hydrothermal Vent Snail )

    Alviniconcha sp. ( Hydrothermal Vent Snail )
    • Siput Hydrothermal, itu lah nama yang diberikan kepada salah satu spesies siput ini karena pertama kali ditemukan dalam saluran hydrothermal di Tokyo Hydrothermal Vent, namun anehnya hanya satu ekor spesimen saja yang berhasil ditemukan.
  3. Anemon laut dan teritip
    Anemon laut dan teritip
    • Anemon laut dan teritip berkembang sempurna dalam daerah hydrothermal vent, hal ini menggambar energi kimia dalam hydrothermal vent sangat tinggi.
  4. Octopus garden

    Octopus garden
    • Spesies ini banyak ditemukan di hydrothermal vents di Pasifik, Atlantik dan lautan India.

Ekosistem Estuari

1. Lingkungan Hidup Estuar
a. Apakah ekosistem estuari?

ekosistem estuaria
Lingkungan hidup di estuari ditandai oleh adanya perubahan campuran air asin dan air tawar yang terjadi secara terus-menerus, serta adanya dominasi lumpur halus dari laut dan sungai yang dibawa masuk ke estuari. Lumpur itu kemudian tertimbun di estuari sebagai paparan lumpur yang luas.
Estuari merupakan bagian dari perairan pantai yang penting bagi kehidupan manusia, baik sebagai pintu keluar-masuk perahuperahu nelayan, sebagai tempat hidup berbagai jenis burung dan avertebrata lainnya, atau sebagai sumber perikanan setempat. Campuran air asin dan air tawar itu merupakan masalah hidup hewan-hewan tertentu. Paparan lumpur merupakan substrat yang kaya makanan, tetapi sedikit oksigen atau bahkan anoksik (tidak ada oksigen bebas).

a. Kadar garam
Kadar garam di estuari berkisar antara 0,5-35‰ (per mil=satu per seribu) dan Umumnya dinyatakan sebagai air payau. Garam-garam ini terutama ion-ion Na+ dan Cl- ditambah dengan potasium, kalsium, magnesium, dan ion sulfat, ditambah lagi ion-ion lain dalam jumlah yang sangat kecil. Kadar garam di laut dan di air tawar stabil, sedangkan kadar garam di estuari sangat bervariasi. Menurut pola sebaran kadar garam di estuari, ada tiga tipe estuari, yaitu estuari positif, estuari negatif, dan estuari netral.Pada estuari positif, penguapan air dari permukaan lebih kecil dari volume air tawar yang masuk dari sungai ke estuari.
  • Pada estuari positif ini, air tawar mengalir di atas air laut yang telah masuk dari laut ke estuari, dan lambat-laun air bercampur secara vertikal dari dasar ke atas. Tipe estuari ini sangat khas di bagian dunia yang beriklim sedang.
  • Pada estuari      tipe negatif, situasi yang berlawanan terjadi. Penguapan dari permukaan melebihi volume air tawar yang masuk ke estuari. Estuari tipe ini selain banyak terdapat di daerah tropik seperti di Indonesia, juga dapat terjadi di mana saja dengan air sungai yang sangat kecil.
  • Pada estuari tipe netral, penguapan yang terjadi dari permukaan sama dengan volume air tawar yang masuk dari sungai. Akan tetapi, kejadian ini jarang terjadi.
b. Lumpur estuari
Endapan lumpur di lingkungan estuary berasal dari laut, sungai, atau curahan air hujan di daratan sekitar estuari. Bersama dengan endapan itu, terangkut pula partikelpartikel organik dari ekskresi hewan atau tumbuhan yang mati atau busuk. Pada saat larutan dan senyawa organik itu masuk ke estuari dari laut dan sungai, senyawa organik itu tinggal sebagai timbunan dan tergabung di dalam ekosistem estuari bersama dengan senyawa anorganik yang halus.

c. Senyawa organik terlarut
Di dalam semua ekosistem perairan, senyawa organik biasanya dikelompokkan menjadi dua fraksi yang dapat diukur dengan menyaring melalui saringan dengan diameter pori rata-rata berukuran 0,5 μm. Bagian yang lewat saringan disebut senyawa organik terlarut (DOM) walaupun itu akan mengandung bahan partikel yang sangat halus ditambah senyawa yang betul-betul terlarut. Fraksi yang tinggal di saringan disebut partikel senyawa organik (POM). Konsentrasi dari DOM dan POM sebagai karbon organik di perairan estuari berada di antara laut dan sungai.

3. Rantai makanan di estuari
Rantai makanan di estuari tergantung pada pasokan energi dari sinar matahari dan transportasi senyawa organik ke dalam estuari dari sungai dan dari arus pasang surut air laut. Di dalam estuari, tumbuhan atau produsen primer mengubah pasokan itu menjadi senyawa organik tumbuhan. Tumbuhan itu kemudian dimakan oleh hewan pemakan tumbuhan (herbivor) atau konsumen pertama, yang seterusnya konsumen pertama itu dimakan oleh karnivor atau konsumen kedua, dan seterusnya sampai ke konsumen tingkat akhir.
Setiap tingkat dalam rantai makanan disebut dengan tingkat trofik, produsen adalah trofik tingkat pertama.
a. Produsen primer di estuari
Di dalam ekosistem estuari dapat dijumpai berbagai jenis produsen primer. Pada paparan pasir atau lumpur, dapat dijumpai lamun (Enhalus acoroides) yang merupakan tumbuhan berbunga, dan beberapa jenis algae, antara lain algae berfilamen seperti Enteromorpha sp., dan Padina sp. Di dalam kolom air estuari dijumpai fitoplankton, seperti diatom atau dinoflagellata.
Produktivitas primer jenis-jenis tumbuhan tersebut sudah tentu tergantung pada sinar matahari dan suhu, serta juga dipengaruhi oleh adanya nutrisi, terutama nitrogen dan fosfat. Begitu tingginya tingkat produktivitas primer di estuari disbanding dengan di laut ini terutama disebabkan oleh tingginya tingkat nutrisi di estuari. Nutrisi ini sangat banyak terdapat di perairan estuari, baik yang datang dari laut, sungai, atau daratan di sekitar estuari. Di dalam estuari, nutrisi itu digunakan oleh tumbuhan. Tumbuhan yang mati kemudian didaur ulang oleh bakteri pembusuk atau decomposer menjadi nutrisi kembali untuk dimanfaatkan lagi oleh tumbuhan.

Tentang peran produsen primer di dalam ekosistem estuari ini, detritus juga memegang peranan penting. Detritus yang terdiri dari sisa–sisa pembusukan tumbuhan produsen primer dan mikroba, mempunyai peran penting dalam menjaga kestabilan ekosistem estuari. Keberadaan detritus menjamin suplai makanan sepanjang tahun dan diabsorbsinya kembali nutrisi yang telah larut.

b. Konsumen primer (herbivor dan detritivor)
Estuari kaya akan sumber makanan bagi konsumen primer dari rantai makanan. Sumber makanan utama diperoleh dari besarnya jumlah detritus yang melimpah di dalam kolom air dan di dasar estuari.
Sebagian besar hewan konsumen primer terdapat di dasar estuari, seperti teritip (Krustasea, Cirripedia), kerang dan keong (Bivalvia dan Gastropoda) yang berada di permukaan dasar estuari, ataupun hewan lainnya yang hidup di dalam lumpur, seperti cacing.
Zooplankton biasanya berada di kolom air. Akan tetapi, adanya arus pasang surut dan aliran sungai yang masuk ke estuari ditambah lagi dengan keterbatasan yang ditimbulkan dari kekeruhan, membuat zooplankton mempunyai peran kecil dalam rantai makanan estuari dibanding dengan perannya di laut. Makanan zooplankton dan bentos kebanyakan berada dalam bentuk partikel organik halus, apakah itu berupa fitoplankton hidup atau macam-macam fragmen hasil pembusukan yang menjadi detritus.

1. Bentos yang hidup di estuari

Bentos dalam estuari dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Yang hidup di permukaan lumpur
Contoh: Perna viridis (kerang hijau) dan siput Strombus sp
Perna viridis (kerang hijau)
Strombus adalah karnivorus (pemakan jenis siput yang lebih kecil) di permukaan paparan lumpur estuari, hidupnya merayap,sedangkan kerang hijau, Perna viridis, hidup menempel di permukaan dan mendapatkan makanannya dengan jalan menyaring partikel-partikel organik yang ada dalam kolom air dan terbawa oleh arus.
b. Yang hidup di dalam lumpur
Contoh: cacing Marphysa sp. dan Branchimaldane sp.

cacing Marphysa sp
Cacing ini memakan benda-benda organik (detritus), diatom yang terdapat di dasar, atau benda organik yang tersuspensi pada waktu air pasang dan surut Cacing Marphysa terutama terdapat di dasar perairan dengan sedimen tidak lebih kecil dari 80 ųm. Biomassa cacing ini tergantung dari banyak sedikitnya senyawa organik di dalam lumpur.

2. Krustasea

Krustasea
Berbagai macam jenis krustasea ditemukan dalam habitat estuari mulai dari yang besar sampai yang kecil. Komponen utama dari krustasea yang hidup di estuari adalah amfipod (Amphipoda) yang hidup di dalam lumpur dekat permukaan. Amfipod membuat liang yang khas berbentuk U. Binatang ini memakan berbagai detritus organik dan keluar dari liang untuk mencari fragmen detritus di sekitarnya. Selain Amphipoda, krustasea lain yang biasa ditemukan adalah kelompok kepiting (Brachyura), kelomang (Anomura), dan udang-udangan (Macrura)

3. Meiofauna

Meiofauna
Meiofauna adalah hewan bentik bersel banyak (multiseluler) yang mempunyai ukuran tubuh antara 32ųm-1000ųm. Mereka hidup di antara rongga-rongga butiran pasir sehingga tidak pernah membuat liang. Seluruh siklus hidupnya tidak pernah mengalami fase planktonik sehingga fase larva juga hanya terjadi di lingkungan bentik. Keberadaan meiofauna dapat dijumpai di perairan pasang surut sampai dengan dasar perairan laut dalam. Termasuk meiofauna adalah hewan yang dapat melewati lubang saringan berukuran 0.5 mm. Sebagai contoh adalah Copepoda Harpacticoida yang hidup di dasar perairan.

c. Konsumer sekunder
1. Ikan

ikan
Berbagai jenis ikan ditemukan di perairan estuari. Ikan-ikan ini ada yang menetap, ada yang datang untuk mencari makan dan bertumbuh besar, atau untuk bertelur. Ikan-ikan ini memakan biota yang lebih kecil (pemangsa), memakan tumbuhan (herbivor), atau menyaring busukan organik (detritus) dengan cara memasukkan lumpur ke dalam mulutnya lalu memuntahkannya kembali setelah menyaring fragmen-fragmen organiknya seperti yang dilakukan oleh ikan-ikan Belanak (Mugilidae)

2. Avertebrata
Berbagai jenis hewan avertebrata ditemukan menghuni perairan estuari. Sebagaimana halnya dengan ikan, avertebrata yang ditemukan di perairan estuari sebagian merupakan penghuni tetap, sebagian lagi datang untuk mencari makan, membesar, atau bertelur. Salah satu contoh adalah udang satang (Macrobrachium sp.) yang datang ke perairan estuari dari hulu untuk bertelur. Avertebrata lainnya adalah larva udang penaeid yang bergerak dari laut menuju perairan estuaria untuk membesar
udang satang (Macrobrachium sp.) 

3. Burung
Burung-burung laut yang datang mencari makan di perairan estuari sebagian adalah burung bermigrasi. Burung bermigrasi ini mengunjungi perairan estuari tropik selama musim dingin di tempat mereka tinggal untuk bertelur.
Burung-burung laut 
Jumlah hewan dan tumbuhan yang hidup di estuari lebih kecil dari yang hidup di laut atau di air tawar. Berkurangnya jumlah jenis hewan dan tumbuhan itu dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kadar garam dan substrat. Perbedaan yang terjadi ditunjukkan dengan berkurangnya keanekaragaman jenis, tetapi jumlah individu tiap jenis itu dapat sangat banyak.
Ekosistem Estuari, khususnya di paparan lumpur yang luas dapat dikembangkan untuk dijadikan tambak ikan atau udang.

Fungsi ekologis estuaria :
  • Sebagai sumber zat hara dan bahan organic yang diangkut lewat sirkulasi pasang surut.
  • Penyedia habitat bagi sejumlah spesies hewan yang bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makanan.
  • Sebagai tempat untuk berreproduksi dan/atau tumbuh besar terutama bagi sejumlah spesies ikan dan udang.
  • Pemanfaatan wilayah estuaria sebagai tempat permukiman, penangkapan dan budidaya sumber daya ikan, transportasi, dan pelabuhan maupun kawasan industri.
  • Sebagai tempat pemukiman.
  • Penangkapan dan budidaya sumber ikan.
  • Sebagai Jalur transportasi.
  • Sebagai pelabuhan dan kawasan industri

Keberadaan Oksigen Di Laut

Keberadaan Oksigen Di Laut
Sumberoksigen dalam air dapat diperoleh dari proses fotosintesis fitoplankton atau tanaman hijau dan difusi udara, dan hasil dari proses kimia reaksi oksidasi. Kehadiran oksigen dalam air biasanya diukur dalam jumlah oksigen terlarut (oksigen terlarut) adalah jumlah miligram gas oksigen terlarut dalam satu liter air.

Dalam ekosistem perairan, keberadaan oksigen dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti distribusi temperatur, di mana produser autotrop mampu fotosintesis, serta difusi oksigen dari udara. Di perairan oksigen umumnya memiliki distribusi yang tidak merata vertikal. Distribusi ini berkaitan dengan kelarutan oksigen dipengaruhi oleh suhu air. Kelarutan oksigen meningkat dengan penurunan suhu air, meskipun hubungan ini tidak selalu berjalan linier.

Penurunan kualitas air akibat pencemaran dapat dilihat dengan mengamati beberapa parameter kimia, seperti oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut dalam suatu perairan diperlukan oleh organisme untuk pernafasan dan oksidasi bahan-bahan organik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu difusi udara dan hasil  fotosintesis organisme yang hidup di dalam perairan tersebut. Kecepatan difusi oksigen dari udara tergantung dari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut. Kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas.Di lapisan permukaan kadar oksigen relatif lebih tinggi karena adanya proses difusi antara air dengan udara serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk bernafas dan oksidasi bahan-bahan organik.Fenomena perubahan alam di lautan semakin mengkhawatirkan akan ancaman perubahan iklim. Baru-baru ini ilmuwan mengumumkan terjadinya penurunan kadar oksigen perairan asin Bumi, terutama di wilayah pesisir pantai Pasifik barat laut Amerika Serikat.Menurut para ilmuwan, ini merupakan satu pertanda perubahan-perubahan mendasar terkait dengan perubahan iklim global. Mereka memperingatkan bahwa ekosistem bawah laut yang komplek dan berkaitan dengan mata rantai makanan di lautan bisa terganggu.Pada beberapa titik perairan di wilayah Washington dan Oregon, menunjukkan penurunan kadar oksigen yang telah menyebabkan tumpukan bangkai kepiting Dungeness di lantai samudra, menewaskan bintang laut berusia 25 tahun lumpuhnya koloni anemon laut dan terjadinya hamparan tikar bakteri yang berpotensi mengancam biota laut.
Wilayah hipoksia atau kondisi rendah oksigen memang sudah lama ada di perairan dalam samudra. Area ini terdapat di Pasifik, Atlantik, dan Samudra Hindia. Namun kini areanya semakin meluas dan menyebar.
Perluasan penipisan oksigen itu terjadi secara dramatis. Seperti di lepas pantai California Selatan, kadar oksigennya menurun sekitar 20% selama 25 tahun terakhir.

Sumber Oksigen (O2) dan Karbon Dioksida (CO2) di Laut
Di lautan, juga terdapat oksigen. Oksigen-oksigen di laut ini berupa oksigen yang terlarut dalam air / Dissolved Oxygen (DO). Sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah difusi dari udara dan hasil fotosintesis organisme yang mempunyai klorofil yang hidup di perairan. Kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air berlangsung sangat lambat, oleh sebab itu, fitoplankton merupakan sumber utama dalam penyediaan oksigen terlarut dalam perairan (MORIBER, 1974 dalam SUSWANTO, 1989).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan oksigen dalam air menurut (WILLOUGHBY, 1978; REID, 1961; WELCH, 1980) :
Suhu
Salinitas
Pergerakan air di permukaan
Tekanan atmosfer
Persentase oksigen di sekitarnya

Contoh organisme laut yang melakukan fotosintesis yaitu Zooxanthellae yang
bersimbiosis dengan terumbu karang di lautan.. Zooxanthellae bersimbiosis dalam jaringan polip karang dan membantu karang dalam produksi gizi melalui kegiatan fotosintesis tersebut. Kegiatan ini memberikan karang dengan senyawa karbon tetap untuk energi, meningkatkan kalsifikasi, dan memediasi fluks unsur hara. Karang pada polip tuan rumah memberikan tempat tinggal zooxanthellae dengan lingkungan yang dilindungi untuk hidup didalamnya, dan suplai karbon dioksida untuk proses fotosintesis-nya. Hasil fotosintesis dari Zooxanthellae ini berupa senyawa carbon seperti calcium carbonat (CACO3) yang berguna untuk terumbu karang dan oksigen yang terlarut dalam air laut.

Sementara itu, karbon dioksida (CO2) yang berada di dalam laut berasal dari proses siklus karbon yang melibatkan biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi. Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan karbon-karbon atau karbon-hidrogen, adalah penting dalam reaksinya di dalam air. Pertukaran karbon ini menjadi penting dalam mengontrol pH di laut dan juga dapat berubah sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon. Karbon siap untuk saling dipertukarkan antara atmosfer dan lautan. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO2 yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah CO2 di air.
Pada daerah upwelling, karbon dilepaskan ke atmosfer. Sebaliknya, pada daerah downwelling karbon (CO2) berpindah dari atmosfer ke lautan. Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat terbentuk:

CO2 + H2O ⇌ H2CO3


Reaksi ini memiliki sifat dua arah, mencapai sebuah kesetimbangan kimia. Reaksi lainnya yang penting dalam mengontrol nilai pH lautan adalah pelepasan ion hidrogen dan bikarbonat. Reaksi ini mengontrol perubahan yang besar pada pH:


H2CO3 ⇌ H+ + HCO3−



DefinisiLaut DalamSeluruh zona yang berada di bawah zonaeufotik (zona bercahaya), Bagian darilingkungan bahari yang terletak di bawahkedalaman yang dapat diterangi sinarmatahari di laut terbuka dan lebih dalamdari paparan benua (>200m)

3. KONDISI LINGKUNGAN  LAUT DALAM Keadaan lingkungan laut dalam sangat gelap dan dipastikan hampir tidak ada proses fotosintesis. Organisme yang hidup di perairan ini merupakan organism yang sangat hebat, karena dapat bertahan hidup dengan kadar oksigen yang sangat minim. Tekanan hidrostatis Meningkat secara konstan sebanyak 1 ATM (1 kg/cm2), setiap pertambahan kedalaman 10 meter.

4.  Kadar Oksigen Cukup untuk menghidupi seluruh organisme di laut dalam (DO= 4% s/d 6%; di perairan  Sumbereufotik, DO= 3.5% s/d 7%). oksigen utama: air permukaan laut di Antartika dan Arktik yang kaya Oksigen.

5.  Suhu Umumnya seragam, dengan kisaran 1 – 3oC (kecuali wilayah hydrothermal vents (>80oC) dan cold hydrocarbon seeps (<1 oC). Salinitas Umumnya seragam (35 ppm), pada daerah cold hydrocarbon  seeps (hipersain = 40 permil). Sirkulasi air Sangat lamban (< 5 cm/detik), tergantung pada bentuk dan topografi dasar laut. Sikulasi air dan ventilasi dalam palung sangat menentukan kadar oksigen di laut dalam. Kadar Oksigen: Cukup untuk menghidupi seluruh organisme di laut dalam (DO= 4% s/d 6%; di perairan eufotik, DO= 3.5% s/d 7%), Sumber oksigen utama: air permukaan laut di Antartika dan Arktik yang kaya Oksigen, Air bersifat anoksik: Teluk Kau (Halmahera), Palung Carioca (Venezuela), Palung Santa Barbara (USA)

Kimia Laut

Di lingkungan perairan merkuri  dapat  berada  dalam  bentuk  metal,  senyawa- senyawa   anorganik   dan  senyawa   organik.  Tingginya kadar merkuri umumnya  diakibatkan  oleh  buangan industri dan  akibat sampingan  dari  penggunaan  senyawa-senyawa merkuri  di  bidang  pertanian.  Ada dua hal yang menyebabkan ditemukannnya merkuri di peraian yaitu  pertama  oleh  kegiatan  perindustrian  seperti industri kertas,  peralatan  listrik, pabrik cat, Chlorine  dan lain sebagainya;  kedua  oleh  alam  itu  sendiri melalui proses pelapukan batuan dan meletusnya gunung berapi. Kegiatan alam kontribusinya tidak signifikan dalam mempengaruhi  kondisi biologi maupun ekologi.

Menurut  Mandlli di dalam Portmann  (1976) , di  antara  beberapa  sumber  polutan  yang  menyebabkan penimbunan  merkuri  di lingkungan  laut  yang terpenting adalah industripenambanganlogam, industri biji besi, termasuk metal plating, industri yang memproduksi bahan kimia,baik organikmaupun anorganik, dan offshore dumping, sampah domestik, lumpur dan lain-lain. Merkuri  yang  terdapat dalam  limbah  atau waste  di perairan  umum  diubah  oleh aktifitas mikroorganis memenjadi komponen methyl merkuri (CH3-Hg) yang memiliki sifat racun dan daya ikat yang kuatdisampingkelarutannya yang tinggi terutama dalam tubuh  hewan air. Hal tersebut mengakibatkan merkuri terakumulasi melalui  proses bioakumulasi dan biomagnifikasi dalam jaringan tubuh hewan-hewan air,sehingga kadar merkuri dapat mencapai level yang berbahaya baik bagi kehidupanhewan air maupun kesehatan manusia, yang makan hasil tangkap hewan-hewan air tersebut. Sanusi (1980) mengemukakan  bahwa terjadinya  proses  akumulasi  merkuri  di  dalam  tubuh  hewan  air, karena  kecepatan  pengambilan  merkuri  (up  take  rate)  oleh  organisme  air lebih  cepat dibandingkan dengan proses ekresi. Selain  itu pencemaran  perairan  oleh  merkuri  mempunyai  pengaruh  terhadap  ekosistem setempat yang  disebabkan  oleh  sifatnya  yang  stabil  dalam  sendimen. Fluktuasi  merkuri  di  lingkungan  laut,  terutama  di  daerah estuari dan daerah pantai ditentukan oleh proses precification, sedimentation, floculation dan reaksi adsorpsi desorpsi.
Proses  methylasi  terpengaruh  dengan  adanya  dominasi  unsur  sulfur (S),  yaitu pada  keadaan  anaerob dan  redokpotensial  yang  rendah. Faktor-faktor  yang  sangat berpengaruh  di  dalam  pembentukan methyl  merkuri  antara  lain : suhu,  kadar  ion  Cl, kandungan organic, derajad keasaman (pH), dan kadar merkuri
Gavis dan Ferguson (1972) di dalam Sanusi (1980) mengemukakan beberapa kemungkinan bentukmerkuri yang masuk ke dalam lingkungan perairan alam, yaitu :
  • Sebagai   merkuri inorganik,  melalui  hujan,  run-off  ataupun  aliran  sungai.  Unsur  ini bersifat stabil terutama pada keadaan pH rendah.
  • Dalam  bentuk  merkuri organik,  yaitu  phenyl  merkuri  (C6  H5-Hg),  methyl  merkuri (CH3-Hg) dan alkoxyalkyl merkuri atau methyoxy-ethyl merkuri (CH3O-CH2-CH2- Hg+).  Organik  merkuri  yang  terdapat  di  perairan  alam  dapat  berasal  dari  kegiatan pertanian (pestisida)
  • Terikat dalam bentuk suspended solid sebagai Hg2+2 (ion merkuro), mempunyai sifat reduksi yang baik
  • Sebagai  metalik  merkuri  (Hgo),  melalui  kegiatan  perindustrian  dan  manufaktur.
Unsur  ini  memiliki  sifat  reduksi yang tinggi,  berbentuk  cair  pada temperatur  ruang dan mudah menguap. Transfer dan transformasi merkuri dapat dilakukan   oleh phytoplankton dan bakteri,  disebabkan kedua organisme  tersebut  relatif mendominasi  suatu  perairan, dan juga  oleh sea grasses. Bakteri  dapat  merubah  merkuri  menjadi  methyl  merkuri, dan membebaskan  merkuri  dari sendimen. Dalam  kegiatannya  bakteri membutuhkan bahan organik  atau  komponen-komponen karbon, nitrogen dan posphat sebagai makanannya (Goldwater, 1971); (Wood, 1972) di dalam Sanusi (1980).
Windom (1974) lihat Mandelli di dalam Portmann (1976) mengemukakan   bahwa   sea   grasess   system  mendominasi   penyerapan   merkuri   dari sendimen  dan  dari  air  laut. Pada  proses  tersebut  merkuri yang  bebas  dari  sendimen dengan jalan lain dapat kembali ke dalam jaringmakanan melalui akarnya. Gavis dan Ferguson,   1972) ; (Shin  dan  Krenkel ,  1976) di dalam Sanusi (1980), mengatakan bahwa methyl merkuri  yang terbentuk  dalam  sediman bersifat tidak stabil, sehingga mudah dilepaskan ke  dalam perairan  yang kemudian diakumulasi  oleh hewan maupun timbuh-tumbuhan air.
Karena sifatnya yang sangat beracun, maka U.S. Food and Administration (FDA) menentukanpembakuan atau Nilai Ambang Batas (NAB) kadar merkuri yang ada dalam jaringan tubuh badan air, yaitu sebesar 0,005 ppm (Walter et al 1973) di dalam Sanusi (1980). Nilai Ambang  Batas  yaitu  suatu keadaan  dimana  suatu  larutan kimia,  dalam  hal  ini  merkuri  dianggap  belum  membahayakan bagi kesehatan manusia. Bila dalam air atau makanan, kadar merkuri sudahmelampaui NAB,maka air maupun makanan  yang diperoleh  dari  tempat tertentu harusdinyatakan berbahaya. Wardoyo (1981) menyatakan NAB air yang mengandung merkuri total 0,002ppm baik digunakan untuk perikanan.
Pencemaran  perairan  oleh  merkuri  akibat  kegiatan  alam  mempunyai  kisaran antara 0,00001sampai 0,0028 ppm, kecuali pada beberapa tempat seperti sungai-sungai di Italia   dimana terdapat sumber endapan logam merkuri alamiah, kadarnya dapat mencapai 136 pph (OECD, 1974) di dalam Sanusi (1980).
Daftar Pustaka
Sanusi, Harpasis S, 1980. Sifat-Sifat Logam Berat Merkuri Di Lingkungan Perairan Tropis. Pusat  Studi  Pengelolaan   Sumber   Daya   Dan Lingkungan, Fakultas Perikanan Ipb, Bogor. 19 P.
Portmann, J, E, 1976. Manual And Methods In Aquatic Environment Research. Part-2, Fao Of The United Nations, Rome.76 P.
Wardoyo, Supomo T. H, 1981. Analisa Dampak Suatu Proyek Terhadap Kualitas Air. Training ANDAL PPLH-UNDP-PUSDI.PSL, IPB. Bogor. 30 p.

Ilmu Kelautan - Kimia Analisa (Volumetri)


TUJUAN INSTRUKTIONAL UMUM (TIU)
Setelah menyelesaikan mata kuliah ini mahasiswa dapat menjelaskan, melakukan proses dan menganalisis dengan metode volumetri, komplekosometri, oksidimetri, potensiometri, ekstraksi pelarut, spektrofotometri dan kromatografi.

TUJUAN INSTRUKTIONAL KHUSUS (TIK)

Setelah menyelesaikan mata kuliah ini mahasiswa mampu menjelaskan kurva titrasi asam kuat dan basa kuat, basa kuat dan asam kuat, asam lemah basa lemah, basa lemah dan asam lemah, jenis indikator, titik akhir titrasi dan titik ekivalen.

Analisa kimia kuantitatif untuk menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat
Dalam penentuan metode ini diperlukan zat yang bereaksi secara kuantitatif dengan larutan dari zat yang akan ditetapkan. Larutan  dengan konsentrasi yang diketahui dengan tepat disebut larutan standar
Bobot zat yang akan ditetapkan, dihitung dari larutan standar yang akan digunakan dan hukum stoikiometri yang diketahui

Analisa Kuantitatif: untuk menentukan jumlah suatu zat atau setiap komponen zat
a. Cara Kuantitatif:
- Cara Klasik
- Cara Instrumen
b. Cara Klasik: Gravimetri
Cara Instrumen: Spektrofotometri,UV, Sinar X
Analisa Kualitatif: komponen bahan
Penggolongan Anion dan Kation
Persamaan Analisa Kualitatif & Kuantitatif

PERSAMAAN:
-tahap analisisnya sama,berbeda dlm tahap pengukuran dalam analisa kualitatif menjadi tahap identifikasi
-keduanya mengukur suatu sifat tertentu
-keduanya memerlukan ketelitian kerja, kemurnian bahan dan kebersihan alat

Larutan standar bisanya ditambahkan ke dalam buret.
Proses penambahan larutan standar sampai reaksi lengkap disebut titrasi.
Titik pada saat jumlah ekuivalen titran sama dengan jumlah ekuivalen analit disebut titik ekivalen (setara).
Titik akhir titrasi adalah titik pada saat terjadi perubahan warna ditandai dengan perubahan warna indikator

Larutan standar yang ditambahkan ke dalam buret disebut titran dan zat yang sedang dititrasi disebut titrat
Syarat analisis titrimetri:
1. Zat yang akan ditetapkan harus bereaksi lengkap dengan reagensia dalam proporsi stoikimetri (ekivalen)
2. Reaksi harus berlangsung dalam sekejap dan cepat. Dalam beberapa keadaan, penambahan suatu katalis akan menaikkan suatu kecepatan reaksi
3. Ada perubahan yang menyolok (perubahan fisika atau kimia) pada titik ekivalen
4. Terjadi perubahan fisika (warna atau endapan) yang tajam pada  titik akhir reaksi yang disebabkan oleh indikator

LARUTAN STANDAR
- Larutan yang konsentrasinya telah ditetapkan secara akurat
- Satuan konsentrasi: molaritas (jumlah mol per liter) dan normalitas (jumlah ekivalen per liter)
Contoh: natrium karbonat, kalium hidrogen ftalat, asam benzoat, natrium tetraborat, asam sulfamat, kalium hidrogen iodat, natrium oksalat, perak nitrat, natrium klorida, kalium klorida, iod, kalium bromat, kalium iodat, kalium dikromat, dan arsen (III) oksida 

STANDAR PRIMER
Tersedia dalam bentuk murni dengan kemurnian yang diketahui, dan digunakan untuk menstandarkan suatu larutan.
Syarat zat standar primer
1. Mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan (110-1200C) dan mudah dipertahankan dalam keadaan murni.
2. Zat tidak boleh berubah dalam udara selama penimbangan, tidak higroskopik, tidak boleh dioksidasi oleh udara, atau dipengaruhi oleh karbondioksida. Komposisi kimia tidak berubah selama penyimpanan.
3. Jumlah total zat pengotor 0,01-0,02 %
4. Zat harus mempunyai ekuivalen tinggi, sehingga kesalahan penimbangan dapat diabaikan. Ketelitian 0,1-0,2 mg dan  berat sampel paling sedikit 0,2 g
5.Zat harus mudah larut pada kondisi akan digunakan
6. Reaksi dengan larutan standar harus stoikhiometri
 7. Contoh:
      - natrium karbonat Na2CO3
    - natrium tetraborat Na2B4O7
    - kalium hidrogen ftalat KH(C8H4O4)
    - asam klorida bertitik didih konsta
    - kalium hidrogen iodat KH(IO3)2  
    - asam benzoat H(C7H5O2)
larutan standar sekunder
Larutan yang distandarisasi dengan larutan standar primer. Contoh:

Larutan yg distandarisasi dengan larutan standar primer
No
Larutan yang distandarkan
Standar primer
Reaksi
1.
KMnO4
As2O3
5 H3AsO3  +2 MnO2-  + 6 H+
2 Mn2+ + 5 H3AsO4  + 3 H2O
2.
Na2S2O3
Cu
2 Cu2+ +  4 I- > 2 CuI (s) + I2
I2 + 2 S2O3=  > 2 I- +  S4O6=

TITRIMETRI
- Analisa kuantitatif berdasarkan pengukuran jumlah reagen yang konsentrasinya diketahui yang diperlukan untuk bereaksi dengan suatu analit.
- Asas umum titrimetri adalah:
    a A + t T > produk
    a = molekul analit A
    t  = molekul regensia T (titran) > larutan standar
   
    titer (mililiter atau miliekuivalen)
     T  =  mg/mL
    N = mg/mLxBE
    T  =  N. BE

Asidi - Alkalimetri
 Asidimetri dan alkalimetri termsk reaksi Netralisasi
Yaitu reaksi antara ion hidrogen yg berasal dari asam dgn ion hidroksida berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral.
Netralisasi : reaksi antara donor proton (asam) dgn penerima proton (basa).
    H+ + OH-  >  H2O
Kegunaan reaksi Netralisasi: untuk menentukan konsentrasi asam/basa yg tdk diketahui, penentuan konsentarsi dilakukan dgn titrasi asam-basa.

Titrimetri Klasifikas
Empat jenis titrimetri:
a. Asam Basa (netralisasi)
         Alkalimetri : HA + OH-  >  A- + H2O      larutan standar : NaOH
    Asidimetri : BOH + H3O+  >  B+ + 2H2O  larutan standar :
     HCl
b. Pengendapan (argentometri) larutan standar : perak nitrat
    Pengendapan kation perak (Ag+) dengan anion halogen
    Ag+  +  X-  >   AgX (s)
    X- = klorida, bromida, iodida, dan tiosianat (SCN-)
c.  Oksidasi–reduksi (Redoks)
    1. Fe2+ + Ce4+  >  Fe3+ + Ce3+     larutan standar: serium(IV) sulfat
    2. 5 Fe2+ + MnO4-  >  5 Fe3+ +  Mn2+  + 4 H2O   larutan standar : KMnO4
d. Pembentukan kompleks larutan standar : EDTA (Nat Edetat)
    Ag+  + 2 KCN  >  Ag(CN)2- + 2 K+
Berdasarkan Titran yang dipakai
Asidimetri
Alkalimetri
Permanganometri
Argentometri
Iodi-Iodometri
Nitrimetri
Penetapan Titik Akhir Titrasi
1.Titrasi Visual
2.Titrasi Elekrometrik
3.Titrasi Fotometrik
Berdasarkan Teknik Pelaksanannya:
1. Titrasi Langsung
2.Titrasi Kembali, untuk reaksi titrasi yang berlangsung agak lambat
3.Titrasi Blanko,untuk mengurangi kesalahan yg disebabkan oleh pereaksi,pelarut.

Berat Ekuivalen (BE)
Asam Basa
Bobot dalam gram dari suatu zat yang diperlukan untuk memberikan atau bereaksi dengan 1 mol (1,008 g)
H+
Redoks
Bobot dalam gram dari suatu zat yang diperlukan untuk   memberikan atau bereaksi dengan 1 mol elektron
Pengendapan atau pembentukan kompleks
Bobot dalam gram dari suatu zat yang diperlukan untuk memberikan atau bereaksi dengan 1 mol kation univalen, ½ mol kation divalen, ⅓ mol kation trivalen dan seterusnya

Berat ekuivalen: BE=BB/n
Keterangan : BE  = berat ekuivalen
                    BM = berat molekul
                     n    = jumlah mol ion hidrogen, elektron atau kation univalen
Soal:
1. a. Berapa titer NH3 dari suatu larutan HCl 0,120 N dan
    b. Titer BaO dari larutan HCl itu ? Reaksi:
         NH3  + H+              NH4+      dan
       BaO + 2H+             Ba2+  +  H2O
    Jawab :
   a. T = 0,120  mek/mL . 17,0 mg/mek (NH3)
      T = 2,04 mg/mL (NH3)
   b. T = 0,120 mek/mL . 153,3/2 mg/mek (BaO)
           T = 9,2 mg/mL (BaO)

Molaritas (M)
Jumlah mol zat terlarut per liter larutan

Normalitas (N)
- ekuivalen zat terlarut per liter larutan
- Rumus umum:
    N   =  ek/V
    Ek  =  g/BE
    N   =  g/BE x V
    G   =  N . V. BE
Hubungan normalitas dan molaritas: N = n M
Soal:
1. Hitung molaritas H2SO4 yang mempunyai kerapatan 1,30 g/mL dan mengandung 32,6 % bobot SO3. Berat molekul SO3 adalah 80,06 g/mol.
Jawab:
Satu liter mengandung =1,30 g/mL .1000 mL/liter. 0,326 = 424 g/liter untuk SO3
    Molaritas (M)  = 424g/liter/80,06g/mol
              = 5,30 mol/liter
2. Hitung berapa gram Na2CO3 yang diperlukan untuk membuat 250 mL larutan 0,150 N
Jawab:
Natrium dititrasi dengan HCl menurut persamaan:
    CO32-  + 2 H+  >  H2CO3
    Tiap Na2CO3 bereaksi dengan 2 H+, maka
    berat ekuivalen adalah setengah berat molekul
    BE = 105,99/2 = 53,00 g/ek. Jadi
    g    =  0,250 liter . 0,150 ek/liter . 53,00 g/ek
    g    = 1,99 gram

Tabel berikut adalah tabel larutan standar primer untuk regensia redoks 
2 Cu2+ +  4 I-       2 CuI (s) + I2

No
Larutan yang  distandarkan
Standar  primer
Reaksi
1.
KMnO4
As2O3
5 H3AsO3  +  2 MnO2-  +  6 H+ 
2 Mn2+ + 5 H3AsO4  + 3 H2O
2.
Na2S2O3
Cu
2 Cu2+ +  4 I-   >  2 CuI (s) + I2
I2 + 2 S2O3=    > 2 I- +  S4O6=

Tabel larutan standar primer untuk reagensia redoks

Cara untuk standarisasi
 1. Standarisasi alkali
a. Panaskan reagent KHP (kalium hidrogen ftalat) selama 2 jam pada suhu 120 0C dan biarkan dingin di dalam desikator.
b. Dilarutkan 10 g phenolphtalein (pp) dalam etanol 95 % dan diencerkan hingga 1 liter.
c. Dididihkan air suling selama 20 menit dan didinginkan dengan mencegah meresapnya gas CO2.
Perhitungan:N=W/V x0,20422
Ket.    N = normalitas larutan alkali
          W = berat KHP dalam gram
          V  = mL alkali yang terpakai dalam titrasi
2. Standarisasi asam
Reagent
-  larutan NaOH yang telah distandarisasi
-  larutan pp. Dilarutkan 1 g pp di dalam 1 liter etanol 95 %
    V . X / 20
Ket:     V = mL NaOH untuk titrasi
           N = normalitas NaOH

Larutan Elektrolit

- Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantar arus listrik akibat adanya ion (+) dan ion (-)
- Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik.
 
-Berdasarkan daya hantar listrik larutan elektrolit dapat dibagi dua jenis, yaitu:
  • Larutan elektrolit kuat (zat yang tersisosiasi lengkap dengan α = 1) 
  • Larutan elektrolit lemah
Tabel Asam Kuat dan Basa Kuat serta Lemah dalam Larutan Air
No.
Asam
Basa
Kuat
Lemah
Kuat
Lemah
1.
HCl
CH3COOH
NaOH
NH3
2.
HNO3
HF
KOH

3
HClO4
H2CO3
Ba(OH)2

4.
H2SO4
H2S
(CH3)4NOH

K = produk/reaktan, K = Tetapan kesetimbangan kimia
Tetapan disosiasi untuk elektrolit lemah menjadi ion-ionnya disebut tetapan disosiasi (Ka, Kb, dan Kw).   
Keterangan:
    Ka = Tetapan disosiasi asam lemah
    Kb = Tetapan disosiasi basa lemah
    Kw = Tetapan disosiasi air
Contoh :
1. 2 H2O  >  H3O+  +  OH-    Kw = [H3O+][OH-]
2. NH3  +  H2O  >  NH4  +  OH-      
     Kb = [NH4+][OH-]/[NH3]
KESETIMBANGAN ASAM BASA
Air adalah elektrolit lemah, terdisosiasi :
    2 H2O  >  H3O+  +  OH-       
Disosiasi air pada suhu 250C, konsentrasi (H+) dan
    (OH-)     1,0 x 10-7 M.
    Kw = [H3O+][OH-] = (1,0 x 10-7 ) (1,0 x 10-7 )   =  1,0 x 10-14

Asidimetri dan Alkalimetri
- Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan larutan standar asam.
    Contoh larutan standar yang digunakan adalah HCl.
-  Alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan larutan standar basa.
    Contoh larutan  standar yang digunakan adalah NaOH.
- Ada 4 jenis titrasi yang digunakan dan masing-masing jenis titrasi menggunakan indikator yang berbeda.
- Indikator yang digunakan tergantung kepada pH larutan analit. 

Argentometri
- Adl penetapan kadar yg didasarkan atas reaksi pembentukan endapan dari komponen zat uji dgn titran titer perak nitrat.
- Ion perak berperan dlm pembentukan endapan, peka terhdp cahaya matahari langsung.
- BE suatu zat pd titrasi ini, bnyk mol setara dgn 1 mol Ag+
    Misal: NaCl + AgNO3          end AgCl + NaNO3
- Indikator: larutan kromat K2CrO4
- Metode Mohr: penetapan kadar klorida PH 6,5-9

Permanganometri
- Adl penetapan kadar reduktor dalam suasana asam sulfat encer.Dlm suasana basa atau asam lemak terbentuk endapan coklat MnO4
- Tidak memerlukan indikator karena larutan KMNO4 sudah bersifat sebagai indikator
- Prinsip penetapan bantuan pemanasan + 700C untuk mempercepat reaksi
- Baku primer Natrium Oksalat

Kompleksometri
- Adl titrasi yg didasarkan atas pembentukan kompleks yg larut dari reaksi komponen zat uji dengan titran.
- Titrasi ini dipakai untuk penetapan kadar logam polivalen atau senyawanya dengan menggunakan nat edetat (EDTA) sebagai titran  pembentuk kompleks
- Keunggulan EDTA:  mudah larut dlm air, dapat diperoleh dlm keadaan murni

Prinsip penetapan:
Titrasi langsung : larutan zat uji yg mengandung ion logam  didapar pd pH tertentu  (misal pH 10 dgn dapar amoniak), langsung titrasi EDTA, indikator metal , titik akhir titrasi ditandai dgn perubahan warna dari merah menjadi biru
Indikator: penentuan TAT dgn visual, mengunakan indikator pembentuk komplek yaitu metalokromik misalnya hitam eriokrom T biru hidroksi naftol
Kesalahan  analisa Volumetri
Antara lain:
Kesalahan pembakuan larutan titer
1. Pemipetan
2. Pembacaan buret
3. Indikator ikut bereaksi
4. Penetapan titik akhir titrasi
5. Pemilihan indikator yang tidak tepat
# pemilihan indikator dan penetapan perubahan warna pada titik akhir titrasi #

ASAM BASA
- Indikator
- Titrasi
Indikator
- Indikator bersifat asam atau basa yang dapat memberikan warna pada pH tertentu.
Ada indikator yang memiliki beberapa warna transisi.
    Contoh: Thymol blue
    Merah – Kuning - Biru
- Ada indikator yang tidak dasarnya tidak warna, tetapi pada pH tertentu dapat berubah warna
    Contoh: Phenolpthalein
    Tidak berwarna - Pink
 
 - Indikator digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi asam-basa.
- Indikator tidak boleh berubah warna sampai sekitar 1 unit pH setelah titik ekivalen

Pemilihan indikator

Idealnya, pH indikator adalah 1 unit di atas pH sampel asam.
pH indikator adalah 1 unit di bawah pH sampel basa.
Pada titrasi asam lemah & basa kuat di atas 7 (misal PH 9) indikator Biru timol atau Fenoltalein.
Pada titrasi basa lemah & asam kuat PH dibawah 7 (misal PH 4) indikator Biru bromfenol atau Jingga metil.

Contoh indikator
Indikator
Range pH
Warna
Bromophenol blue
6,2-7,6
Kuning-biru
Methyl orange
3,2-4,4
Merah(asam)-kuning
Methyl red
4,8-6,0
Merah(asam)-kuning
Bromothymol blue
6,0-7,6
Kuning-biru
Cresol purple
7,4-9,0
Kuning-ungu
Phenolpthalein
8,2-10
Tdk berwrn (asam)-Pink
Thymolphtalein
9,4-10,6
Tdk berwrn (asam)-Biru
Alizarin yellow CG
10,0-12,0
Kuning (asam)-merah
phenolphthalein
phenolphthalein

Titrasi
Metode yang digunakan untuk menentukan jumlah asam dan basa yang bereaksi untuk saling menetralkan didasarkan atas pengukuran volume.
  • Jika konsentrasi suatu asam diketahui, maka jumlah basa dapat ditentukan. 
  • Sebaliknya, jika konsentrasi suatu basa diketahui, maka jumlah asam dapat ditentukan. 
  • Peralatan yang dibutuhkan adalah buret dan indikator yang sesuai (atau pH meter) 
Buret
Peralatan gelas volumetri yang digunakan untuk titrasi
Buret
Buret

Kurva titrasi 
Plot pH vs jumlah asam atau basa yang ditambahkan selama titrasi, yang berguna untuk:
  • Mengamati sifat titrasi 
  • Menentukan titik dimana indikator menunjukkan perubahan warna.
Kurva titrasi

Kurva titrasi